icon
icon
article hero

Mengenal Lebih Dekat Masjid Sultan, Masjid Termegah di Singapura

AvatarName

Tiara  •  Jul 17, 2020

icon

[Artikel ini aslinya ditulis oleh Shasha Dania. Kamu bisa membaca versi berbahasa Inggris yang ditulisnya di halaman ini.] Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan. Baik warga lokal maupun wisatawan, siapapun yang pernah ke Singapura pasti tidak asing lagi dengan Masjid Sultan. Kubahnya yang berwarna emas adalah pemandangan khas yang menghiasi area Kampong Glam dan merupakan monumen penting bagi umat Muslim di Singapura. Kali ini, tim HHWT akan mengajak kamu untuk melihat lebih dekat sejarah Masjid Sultan dan prosesnya hingga kini menjadi lambang kebanggaan Singapura. 🥰
Kredit: tourwithus Masjid ini didirikan pada tahun 1824 oleh Sultan Hussain Shah setelah menyepakati perjanjian pembangunannya dengan British East India Company. Kala itu, sang Sultan dan keluarganya masih tinggal di area Istana Kampong Glam dan mendedikasikan sebidang lahan untuk membangun masjid ini. Saat baru selesai dibangun pada tahun 1826, masjid ini sama sekali berbeda dengan bangunan yang ada sekarang. Awalnya, masjid hanya memiliki satu lantai dengan atap 2 tingkat. Bentuk ini mirip dengan beberapa masjid tradisional di Asia Tenggara lain yang masih ada sampai sekarang. Misalnya seperti Masjid Kampong Laut di Kota Bahru.
 Pada tahun 1924, masjid ini direnovasi untuk pertama kalinya. Bangunan baru didirikan di lahan yang sama secara bertahap agar tidak mengganggu para jamaah yang beribadah. Dari pembangunan inilah tampilan Masjid Sultan mulai tampak seperti apa yang kita lihat sekarang, dengan kubah besar dan beberapa menara di sekelilingnya. Faktanya, bagian dasar kubah masjid terbuat dari botol kaca yang didonasikan oleh umat Muslim berpenghasilan rendah di negara ini. Dengan demikian, semua lapisan masyarakat pun turut berkontribusi dalam pembangunan Masjid Sultan.😊 P.S. Lihat juga 9 masjid indah Singapura lainnya yang patut kamu kunjungi!
Arsitektur masjid ini bergaya Indo-Saracen yang sarat akan nuansa India, Persia, dan Islami dengan ciri khas kubah besar dan menara. Interiornya dicat dengan nuansa hijau terang untuk menonjolkan langit-langitnya yang menjulang. 😍 Untuk melihat lebih dekat masjid dengan pengaruh budaya Turki dan Ottoman pada arsitekturnya, kamu bisa melihat Masjid Camii di Tokyo. Berbagai tulisan kaligrafi dan ukiran bernuansa Islami pun menghiasi interior masjid, termasuk pada tepian mihrab untuk imamnya. Sosok manusia dan binatang memang hal yang dihindari dalam kesenian Islam, jadi motif bunga dan geometris lebih sering ditemukan menghiasi masjid.
Kredit: Jnzl's Photos di Flickr Perpaduan pengaruh budaya yang berbeda dalam dekorasi Masjid Sultan mencerminkan keberagaman umat Muslim yang ada di Singapura. Dari luarnya saja, sudah tampak kemegahan masjid yang menjadikannya salah satu destinasi wajib di negeri singa. Seperti masjid-masjid lainnya di dunia, Masjid Sultan pun merefleksikan pengaruh budaya Islam dan budaya lokal dalam keseluruhan bangunannya. 
Kredit: Francisco Anzola di Flickr Setelah direnovasi, masjid ini dibuka kembali pada thaun 1929 dan selesai dibangun pada tahun 1932. Bangunan asli masjid ini bahkan dinobatkan sebagai situs warisan sejarah oleh Dewan Pelestarian Monumen Bersejarah di Singapura pada tahun 1975. Meski sekarang bangunannya sudah benar-benar berbeda, kawasan ini punya tempat khusus di hati wisatawan dan warga lokal Singapura. Terlebih mengingat begitu banyak makanan halal di kawasan ini. 😋
Beberapa tahun belakangan, masjid ini direnovasi untuk memenuhi kebutuhan jamaah. Pada tahun 2017, masjid ini memasang panel surya untuk mengurangi jejak karbonnya dan keran hemat air di tempat wudhu. Masjid ini pun menjadi bagian dari perayaan 2 abad Singapura yang melambangkan betapa dicintainya masjid ini, bahkan bagi umat non-Muslim. 😊  Hari ini, Masjid Sultan adalah bagian penting dari komunitas Muslim di Singapura. Berbagai acara pun kerap diselenggarakan di sini, mulai dari kajian, akad nikah, hingga bazar Ramadan di sekitar masjid (sebelum pandemi). Setelah sempat ditutup selama beberapa lama, Masjid Sultan telah kembali dibuka sejak tanggal 26 Juni 2020 lalu, baik untuk shalat sendiri maupun berjamaah. Kalau kamu ingin shalat di sini, catat dulu informasi berikut ini: 
  • Shalat Jumat berjamaah dilakukan dalam 2 sesi dengan kapasitas masing-masing 50 jamaah. Pendaftaran dilakukan secara online di halaman ini.
  • Seluruh jamaah harus menjaga jarak fisik dan membawa alat shalat sendiri.
  • Usahakan untuk berwudhu sebelum tiba di masjid dan selalu kenakan masker.
  • MUIS tidak mewajibkan beberapa kelompok untuk melaksanakan shalat Jumat. Mereka adalah lansia, orang dengan sakit parah, orang yang memiliki anggota keluarga yang rentan (bayi atau anak-anak), dan yang tidak kebagian kuota shalat Jumat.
Meski kini Masjid Sultan belum beroperasi normal, Fase 2 di Singapura diharapkan akan menjadi awal bagi umat Muslim di sana untuk kembali beraktivitas secara normal. Untuk saat ini, kamu masih bisa mengagumi keindahan Masjid Sultan, bermain dengan beberapa kucing liar di sana, ataupun sekedar menikmati keheningannya. ☺️ Alamat: 3 Muscat Street, Singapore 198833 Jam operasional: Setiap hari jam 5.30 - 19.00 dan 13.00 - 21.00 Petunjuk arah: Dari stasiun MRT Bugis, berjalanlah sepanjang North Bridge Road selama 10 menit sampai masjid terlihat. Nomor telepon: +65  6293 4405 atau +65 6293 4043 Website | Facebook | Instagram Simak informasi lain yang tak kalah menarik tentang rumah ibadah umat Muslim di dunia dalam artikel berikut: