icon
icon
article hero

Refleksi Anak Kost Indonesia: Ramadan Sendiri Di Kota Orang Kala Pandemi

AvatarName

Tiara  •  Apr 28, 2020

icon

Informasi yang ada di bawah ini akurat dan sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan. Tahun ini, umat Muslim di dunia harus menjalani puasa di bulan Ramadan dengan suasana yang berbeda. Merebaknya virus corona di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia, memaksa kita untuk mengubah kebiasaan yang telah dilakukan dalam tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini dirasakan oleh seluruh umat Muslim di tanah air, tak terkecuali para perantau dan anak kost. Credit: Giphy Menjalani Ramadan seorang diri saja sudah menjadi tantangan tersendiri, apalagi ditambah dengan kondisi PSBB yang masih akan berlangsung hingga 22 Mei 2020 nanti serta larangan mudik yang ditetapkan pemerintah. Saya pun penasaran, bagaimana cara teman-teman perantau menghadapi kondisi yang berbeda ini dan apa saja hikmah yang mereka petik darinya? P.S. Tahukah kamu bahwa teman-teman non-Muslim cukup penasaran dengan Islam dan puasa Ramadan? Baca juga 11 pertanyaan yang mereka tanyakan dan jawabannya di halaman ini! Akhir pekan lalu pun saya memutuskan untuk berbincang dengan 2 teman baik saya yang tinggal sendirian di ibukota. Anggung (28 tahun) asal Mojokerto adalah mantan teman satu kost saya yang bekerja sebagai kru studio di sebuah televisi nasional dan sudah 8 tahun merantau di Jakarta.  Sementara Luthfi (27 tahun) berasal dari Bukittinggi dan merupakan seorang social media manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Meski berpuasa Ramadan di kost telah mereka jalani selama bertahun-tahun, kali ini tantangan bertambah satu dengan adanya pelarangan mudik. Akibatnya, rasa rindu untuk berkumpul dengan keluarga besar di hari raya pun urung terbayarkan. Namun, bukan anak rantau namanya kalau tidak punya mental baja. Kedua kawan saya ini justru menemukan banyak hal yang bisa disyukuri dan dijadikan pelajaran dengan menjalani Ramadan sendiri di tengah pandemi Covid-19.
1. Mengasah keahlian baru
Kredit: Anggung Nastiti Berkurangnya pilihan hiburan karena PSBB memaksa Anggung untuk menghabiskan lebih banyak waktu di kost. Hasilnya? Anggung yang dulu saya kenal hanya masak sayur sop dan gorengan kini sudah bisa membuat dimsum lezat untuk berbuka puasa. Waktu luang kini digunakannya untuk mencoba berbagai resep sederhana yang bisa dipraktekkan untuk sahur ataupun berbuka. Ketika PSBB usai nanti, saya pun sudah berjanji untuk berkunjung ke kost-nya. Siapa tahu kawan saya yang satu ini sudah semakin pandai memasak, bahkan mungkin berbagai masakan Korea sederhana!
2. Lebih cakap dalam mengatur keperluan hidup
Kredit: Luthfi Kurniawan  Teman saya yang lain, Luthfi, juga tak kalah siap menghadapi Ramadan di tengah PSBB ini. Kemandiriannya memang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi karena ia sudah nge-kost sejak masih berstatus sebagai mahasiswa 10 tahun lalu. Bedanya, kali ini Luthfi semakin siap dengan membeli sejumlah  bahan makanan tahan lama saat giliran belanja bulanan beberapa waktu lalu. Ia pun beradaptasi untuk menghadapi kondisi new normal dan membekali diri dengan beberapa peralatan memasak elektrik baru reperti rice cooker serta panci listrik untuk memasak sendiri di kost.  P.S. Bukan hanya untuk menanak nasi, ada berbagai makanan yang bisa kamu buat dengan rice cooker!
3. Komunikasi dengan keluarga semakin intens
Kredit: Anggung Nastiti Bermukim di epicentrum penyebaran Covid-19 tertinggi di Indonesia memang menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Kekhawatiran ini pun juga dirasakan oleh keluarga Anggung di Mojokerto. Jika sebelumnya sesi video call bersama keluarganya dilakukan sekali atau 2 kali seminggu, kini intensitasnya bertambah hingga 3 sampai 4 kali dalam seminggu. Hal ini dilakukan untuk saling mengabarkan keadaan kesehatan masing-masing. Begitu pula halnya dengan Luthfi, kini komunikasi dengan keluarga pun semakin sering dilakukan, terutama untuk mengingatkan makan sahur menjelang berbuka puasa.
4. Semakin kompak dengan teman-teman sesama perantau
Faktor lain yang juga menguatkan adalah kesadaran bahwa mereka tidak menghadapi kondisi ini sendirian. Dalam situasi luar biasa seperti saat ini, timbul rasa solidaritas tersendiri untuk saling menjaga satu sama lain. Bagi Luthfi, hal ini dilakukannya dengan membuat sebuah grup Whatsapp berisikan teman-teman satu kantor yang juga berpuasa di kost sebagai sarana untuk koordinasi dan berbagi informasi.
Kredit: Anggung Nastiti  Sementara bagi Anggung, momen ini dimanfaatkannya untuk mempererat ukhuwah dengan shalat tarawih berjamaah dan memasak sahur bersama teman satu kost-nya. P.S. Simak tata cara shalat tarawih berjamaah di rumah dalam panduan singkat berikut ini!
5. Semakin bersyukur atas nikmat sehat
Covid-19 memang telah memukul banyak orang, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi. Bekerja sambil berpuasa dalam keadaan sehat pun kini menjadi catatan syukur tersendiri bagi Anggung dan Luthfi.
Kredit: Anggung Nastiti Meskipun harus menunda keinginan untuk bertemu dengan keluarga di kampung halaman, setidaknya kondisi keluarga yang sehat telah menjadi penyemangat mereka untuk tetap bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Kesadaran ini menjadi salah satu faktor yang membuat mereka tetap tenang selama menghadapi dampak Covid-19. Dari sekian banyak nikmat, terkadang memang nikmat sehatlah yang paling sering terabaikan. Dengan kondisi saat ini, kita pun perlu terus bersyukur atas nikmat sehat dengan mengonsumsi makanan yang baik untuk tubuh dan berolahraga agar tetap bugar selama berpuasa.
6. Menemukan cara lain untuk mengisi waktu luang
PSBB yang diberlakukan di Jakarta diperpanjang hingga 22 Mei 2020 alias 2 hari menjelang hari Lebaran. Hal ini otomatis membatasi pergerakan masyarakat. Artinya, tidak ada kumpul-kumpul buka puasa bersama, pengajian, atau bahkan shalat tarawih di masjid.
Kredit: Anggung Nastiti  Keterbatasan ini justru menjadi kesempatan bagi Anggung untuk melakukan hal-hal yang tidak sempat dipenuhinya. Misalnya menyelesaikan buku yang ia punya, memasak bersama teman satu kost, dan mengikuti berbagai kelas online yang ia sukai. Sementara bagi Luthfi, waktu luangnya diisi dengan menghubungi orang-orang tersayang dan membersihkan kamar kost-nya.
7. Sesungguhnya di sinilah iman dan kesabaran kita diuji
Bulan suci Ramadan adalah kesempatan yang baik untuk bertaubat dan semakin mempertebal iman. Kondisi luar biasa yang harus ditempuh sendirian di kota orang seperti yang dialami oleh Anggung dan Luthfi pun menjadi medium untuk meningkatkan iman dan kesabaran bagi mereka. Keduanya pun berpesan kepada semua anak kost yang bernasib serupa untuk terus menjaga kesehatan, meningkatkan ibadah, bersedekah, dan berkeyakinan bahwa mendekatkan diri kepada Allah adalah kunci untuk menghadapi kondisi ini.
Kredit: Luthfi Kurniawan Meskipun harus menghadapi ujian tambahan, bukan berarti bulan Ramadan tahun ini harus dihadapi dengan muram. Anggung dan Luthfi adalah contoh nyata betapa manusia mampu mengendalikan responnya terhadap kondisi eksternal. Untuk kamu yang bernasib sama, ada beberapa tips yang bisa diterapkan untuk bertahan dalam kondisi ini:
  • Terus berkomunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekat Jarak bukanlah alasan untuk tidak berkomunikasi. Selain untuk saling menanyakan kabar, mengobrol (secara virtual) dengan orang-orang terdekat juga bisa membuat kita semakin menyadari bahwa kita tidak sendirian menghadapi kondisi ini.
  • Berinvestasi dengan membeli beberapa alat masak sederhana Kalau di kost tidak ada dapur, kamu bisa menyiasatinya dengan membeli beberapa alat masak listrik seperti rice cooker dan panci listrik untuk memasak nasi dan lauk sederhana. Jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik kost dan jelaskan bahwa kamu membutuhkannya untuk kondisi seperti saat ini.
  • Belajar memasak sendiri Bukan sekedar telur ceplok atau mi instan. Belajar memasak resep sederhana untuk sahur dan berbuka puasa akan membantu kamu menghemat pengeluaran dan meminimalisir frekuensi untuk keluar rumah, sesuatu yang baik untuk dilakukan di tengah kondisi seperti ini.
  • Mengatur prioritas keuangan Saatnya memikirkan ulang pengeluaran kamu. Tidak perlu membeli kosmetik, mainan, barang hobi, ataupun baju baru saat ini. Manfaatkan uang sebaik-baiknya dan sisihkan lebih banyak untuk keperluan darurat.
  • Tetap aktif berkegiatan Tetap bekerja, belajar, dan bersosialisasi dengan cara berbeda dari biasanya. Dengan demikian, kamu akan tetap produktif dan punya rutinitas yang akan membimbing kamu hari demi hari. Bonusnya, suasana hati kamu pun akan lebih stabil!
  • Memperbanyak ibadah dan berdoa Tidak diragukan lagi, mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah cara terbaik untuk mencapai ketenangan hati. Bukan hanya untuk memohon kekuatan untuk melewati semua ini, curahkanlah isi hati dan perasaanmu dalam doa. Meski saat ini kondisi penuh dengan ketidakpastian, sesungguhnya Allah SWT adalah sebaik-baiknya perencana.
 Keyakinan dan iman terhadap Allah SWT adalah kunci bagi umat Muslim untuk bertahan di dalam berbagai kondisi. Rasa rindu untuk bertemu dengan keluarga harus tertahan karena kesehatan adalah harta paling berharga yang kita miliki saat ini. Sekalipun bayarannya adalah jarak, lakukanlah jika memang itu jalan yang terbaik bagi kita dan orang-orang yang kita sayangi. Sebagai penutup, izinkan saya mengutip pesan Anggung untuk keluarga yang ia sayangi di rumah yang saya rasa juga merefleksikan perasaan ribuan anak kost lainnya.   
“Aku minta maaf karena tahun ini belum bisa pulang. Meskipun kita berjarak sekarang, tapi aku selalu berdoa dan berharap bahwa situasi ini akan segera membaik dan kita bisa ketemu lagi. Bukan berarti aku ga pulang karena ngga sayang, tapi ini adalah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi.”
Semoga kita selalu berada di dalam lindungan Allah SWT dalam menjalankan puasa di bulan Ramadan yang berbeda ini.