icon
icon
article hero

Pantai yang sepi di Bali jadi pesona tersendiri.

Ketika Bali dirundung pandemi, pantainya yang sepi justu punya pesona tersendiri. Member Tribes by HHWT Mawar Astari membagikan pengalamannya menyusuri garis pantai Pulau Dewata dan inilah kisahnya. Simak juga cerita dari member Tribes by HHWT Indonesia lainnya dalam artikel berikut ini: Penasaran dengan pantai di area Bali Selatan namun hanya punya waktu kurang dari 24 jam ? Saya akan berbagi cerita perjalanan menjelajahi empat pantai di area Bali Selatan dalam waktu kurang dari sepuluh jam menggunakan sepeda motor di kala pandemi. Semua pantai yang saya kunjungi ini bisa diakses langsung dan bukan hanya dilihat dari atas tebing.

1. Pantai Melasti

Kredit: Mawar Astari Pantai ini berada di area Ungasan di ujung selatan Bali, sejajar dan dekat dengan Karma Kandara. Perjalanan kami tempuh sekitar satu jam sepuluh menit dari titik pertemuan McDonald’s Simpang Dewa Ruci. Arah perjalanan hampir sama bila hendak menuju Pantai Pandawa. Jadi, kita juga bisa melihat patung Garuda Wisnu Kencana dari kejauhan. Jalannya berliku namun pemandangannya jauh lebih indah dan lebih bersih dari Pandawa. Begitu sudah dekat, kami disambut tebing kapur. Air lautnya menampilkan gradasi warna toska serta beberapa jenis warna biru. Sedangkan pasirnya coklat muda, kontras dengan warna air lautnya sehingga sangat memanjakan mata. Tiket masuknya cukup murah, total Rp 18.000 untuk biaya satu sepeda motor dan tiket masuk untuk dua orang. Tempat ini lebih ramai dari Batu Belig, tetapi masih terbilang sangat sepi. Saya hanya menemukan belasan orang di area pantai yang datang silih berganti. Kami menghabiskan 1,5 jam supaya tidak kesiangan untuk sampai di tempat selanjutnya. 

2. Pantai Suluban / Blue Point

Kredit: Mawar Astari Pantai Suluban/Blue Point berada di area Pecatu. Perjalanannya searah menuju area Uluwatu. Kami menempuh jarak 14,2 kilometer dari Pantai Melasti dengan waktu sekitar 30 menit. Tiket untuk warga lokal adalah sebesar Rp 5.000. Setelah memarkir kendaraan, ternyata kami masih harus menuruni tebing dengan tangga berundak turun. Persiapkan stamina dan air minum karena membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit untuk menuruninya. Pemandangan di kiri tebing cukup bagus karena bisa melihat laut dari atas. Sebaliknya, di sisi kanan adalah tempat tinggal warga sekaligus tempat bisnis mereka. Sayangnya, lingkungan ini terkesan kumuh dan tidak tertata dengan baik. Sampai di bawah tebing ada tangga turun yang lebih terjal. Kondisinya gelap dan agak terasa menyeramkan. Lokasi yang dimaksud ternyata mirip seperti setengah gua terbuka yang berada di antara tebing-tebing dan karang seperti Pantai Dreamland. Saya tiba sekitar pukul 13.00 dan air laut sudah mulai naik sehingga tidak bisa melangkah lebih jauh. Menurut saya, lokasi pantai ini kurang nyaman untuk bisa berlama-lama karena itu kami hanya berfoto sejenak lalu melanjutkan ke destinasi berikutnya. Di tengah perjalanan kami beristirahat di Masjid Palapa di area Pecatu Graha Resort untuk beribadah, baru kemudian kami melanjutkan perjalanan. 

3. Pantai Balangan

Kredit: Mawar Astari Pantai ini sedikit sulit ditemukan. Kami sudah mengikuti Google Maps, namun tetap melewati jalan perkampungan yang agak sulit dilalui oleh motor. Setelah menempuh jarak 16 kilometer, sekitar 35 menit dari Pantai Blue Point, akhirnya kami pun sampai. Dari awal kami merasa agak aneh karena lokasinya sepi dan jalannya masuk kampung. Saat melihat ke atas, kami baru sadar ternyata kebanyakan orang menikmati pemandangan dari atas tebing sedangkan kami berada di bawahnya. Kondisi pantai cukup besih. Warna air lautnya memiliki beberapa gradasi warna meski masih kalah indah dari Pantai Melasti. Namun, pantainya sepi pengunjung sehingga kami bisa puas menghabiskan waktu bercengkrama dengan alam hingga seakan pantai milik kami sendiri. Selama perjalanan kami agak kesulitan menemukan tempat makan karena banyak yang tutup dan kami meragukan kehalalannya. Karena itulah, kami bergegas ke tujuan akhir di Jimbaran untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan dari siang. 

4. Pantai Jimbaran

Ilustrasi hidangan seafood (Kredit: Alexander Povalny) Sesampainya di area Jimbaran kami langsung menuju pasar ikan Kedonganan. Lokasinya sekitar 14 kilometer, 30 menit dari Pantai Balangan. Awalnya, kami ingin membeli bahan mentah untuk dibakar di restoran supaya lebih hemat. Banyak jasa bakar ikan yang ditawarkan di sepanjang jalan dengan harga mulai sekitar Rp 20.000 per kilogram. Saat di dalam pasar ikan, kami sadar tidak mengetahui harga pasaran di sana dan bila salah menawar justru bisa lebih mahal. Akhirnya, kami langsung menuju Restoran New Furama yang hanya berjarak lima menit dari pasar ikan. Kami memilih paket lengkap untuk dua orang. Setiap porsi berisi kudapan kacang, welcome drink , sebotol kecil air mineral, tiga udang bakar, empat cumi goreng tepung, empat kerang, satu ikan, dan buah potong. Kami juga mendapatkan satu porsi plecing kangkung dan satu bakul nasi untuk berdua. Kami cukup membayar Rp 176.000 termasuk PPN atau seharga Rp 88.000 per orang. Harga ini cukup terjangkau dengan variasi makanan selengkap itu. Kami hanya menyentuh sedikit nasinya karena cukup keras, namun sangat kenyang dengan lauk sebanyak itu. Restoran ini memiliki mushola, area indoor dan outdoor, serta spot foto dan ayunan. Sayangnya, saat itu langit mendung sehingga kami tak bisa menikmati momen matahari terbenam di Jimbaran yang terkenal itu. Bila diurutkan dari keempat destinasi yang telah kami kunjungi, juaranya adalah Pantai Melasti, baik dari sisi keindahan, kenyamanan dan kebersihannya. Kemudian disusul Pantai Balangan, Jimbaran dan terakhir Suluban/Blue Point.