icon
icon
article hero

5 Hari 4 Malam di Negeri 3 Matahari, Pulau Sumbawa dan Pesonanya yang Tersembunyi

AvatarName

Tiara  •  Aug 14, 2020

icon

Pengalaman wisata Sumbawa ini ditulis oleh kontributor HHWT, Rakhmah Sofia. Beberapa bagian telah diedit untuk menyesuaikan panjangnya dan lebih mudah dipahami. Ketika menyebut wisata Sumbawa, banyak yang membayangkan bahwa Sumbawa adalah Sumba (termasuk saya 😅). Saat diajak mencari tiket, saya langsung setuju karena sudah terbayang keindahan Sumba. Padahal faktanya, Sumba berada di Nusa Tenggara Timur sedangkan Sumbawa berada di Nusa Tenggara Barat. Jadi, NTB bukan hanya Lombok, melainkan juga Pulau Sumbawa dan beberapa pulau lain. Sama seperti pulau Lombok yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, Sumbawa pun mayoritas penduduknya beragama Muslim.  Kami pergi ke Sumbawa pada musim panas bulan Juni 2019, bulan terbaik untuk liburan di pantai. Saya pergi bersama keluarga yang terdiri dari 4 orang dewasa, 2 anak-anak, dan 1 balita. Dalam liburan ini, kami dibantu oleh @rio_sumbawa, seorang pemandu lokal, fotografer, sekaligus instruktur diving bersertifikat. Sesuai rencana, kami liburan selama 5 hari 4 malam.
Hari pertama - Tiba di Sumbawa dan Bukit Mantar
 Perjalanan dimulai dengan terbang dari Jakarta menuju Lombok, lalu  berganti dengan pesawat ATR 72. Perjalanan dari Jakarta-Lombok memakan waktu sekitar 2 jam, kemudian dilanjutkan Lombok-Sumbawa sekitar 30 menit (pada saat itu waktu transit sekitar 90 menit). Biaya tiket pesawat dari Jakarta-Sumbawa PP berkisar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Selain bentuknya yang berbeda, kapasitas pesawat ini pun terbatas, hanya 78 orang saja.    Selamat datang di Negeri 3 Matahari! Julukan ini didapatkan karena tanah Sumbawa kaya akan kapur sehingga lebih panas dibandingkan wilayah lainnya. Sesampainya di Sumbawa, kami dijemput oleh Mas Rio dan perjalanan pun dimulai.
Destinasi pertama adalah Bukit Mantar yang berada di ujung barat  Pulau Sumbawa. Namun sebelumnya, kami diajak untuk menikmati makanan khas Sumbawa terlebih dahulu yaitu Singgang Ikan. Selain makan berat, kami pun singgah sejenak di Desa Rhee yang terkenal dengan Jagung Susu-nya. Jagung Rhee memiliki rasa yang unik dibandingkan dengan jagung rebus lainnya. Berdasarkan informasi dari Mas Rio, jagung Rhee dimasak menggunakan air tanah daerah setempat yang memiliki kandungan kapur yang tinggi. Sampailah kami di homestay untuk istirahat sejenak karena masing terlalu siang untuk naik ke bukit Mantar. 
Jam 4 sore kami dijemput kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Mantar dengan mobil sampai Desa Seteluk. Di Desa Seteluk kami harus berganti kendaraan 4WD untuk dapat mencapai Bukit Mantar dengan perjalanan selama 30 menit dengan medan berbatu dan hutan serta tebing di sisi-sisinya. Sebelum sampai ke bukit, kami melalui Desa Mantar yang letaknya sangat tinggi yaitu 660 mdpl (sstt, lokasi ini pernah dijadikan lokasi syuting Serdadu Kumbang, salah satu film besutan Alenia). Sesampainya di bukit Mantar kami disuguhkan pemandangan Teluk Sumbawa di sisi timur dan Pulau Lombok dengan Gunung Rinjani-nya di sisi barat. Di sekitar bukit Mantar terdapat makam-makam dari warga desa Mantar, akan tetapi hal tersebut tidak menyebabkan bukit Mantar menjadi angker.  Di bukit ini pun terdapat fasilitas parasailing dengan pemandangan yang menakjubkan. Sayangnya, kami belum sempat booking untuk mencobanya. Saat kami turun kembali menggunakan mobil 4wd ketika hari sudah gelap, kami menikmati bintang dan bulan yang terasa dekat karena lokasi Bukit Mantar yang cukup tinggi. Kami pun memutuskan untuk menginap di daerah Poto Tano karena tujuan hari pertama dan kedua tidak jauh dari sana.
Hari Kedua - Pulau Paserang dan Pulau Kenawa
Tujuan kami hari ini adalah ke Pulau Paserang dan Pulau Kenawa. Untuk menyeberang ke Pulau Paserang kami harus berkendara terlebih dahulu sekitar 15 menit ke dermaga pelabuhan Poto Tano. Kami menyewa kapal seharian untuk digunakan berpindah antar pulau.
 Tujuan pertama adalah Pulau Paserang yang terletak di gugusan pulau Selat Alas yang membatasi Sumbawa dengan Pulau Lombok. Sesampainya di Pulai Paserang kami menikmati keindahan pulau dengan pasir putihnya dan bermain pantai terlebih dahulu. Kemudian kami naik ke atas bukit untuk menikmati keindahan Pulau Paserang dari atas dengan mendaki kurang lebih 20 menit. Jalan menuju puncak cukup curam dan penuh dengan ilalang serta tanaman liar yang cukup tinggi dan membuat kaki gatal. 😅 Sesampainya di puncak bukit kami disuguhkan pemandangan Indah pulau Paserang dengan perpaduan pasir putih, hijaunya laut dangkal, dan birunya laut. 
Setelah puas menikmati keindahan Pulau Paserang dari atas bukit kami kembali turun ke pantai untuk snorkeling di Pulau Paserang. Mas Rio mengajak kami snorkeling di spot yang luar biasa indah. Padahal jaraknya pun tidak terlalu jauh dari pantai. Setelah kurang lebih 50 menit snorkeling, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kenawa. 
Ciri khas dari pulau Kenawa adalah Bukit Kenawa, tapi kali ini kami tidak naik keatas bukit dan hanya bermain dipantai saja. Pasir Pulau Kenawa terlihat berwarna pink di beberapa sisi karena terdapat alga merah disekitar pantai Kenawa. Setelah puas bermain di pantai, kami pun snorkeling di pulau Kenawa dan melihat biota laut yang sedikit berbeda dengan Pulau Paserang. Di Pulau Kenawa lebih banyak variasi ikan seperti ikan terompet, ikan barakuda, ikan kakaktua, ikan buntal dan masih banyak lagi. Setelahnya, kami kembali ke kota Sumbawa karena besok kami akan mengunjungi Pulau Moyo yang terletak disisi utara Pulau Sumbawa.
Hari Ketiga - Pulau Moyo dan Pantai Ai Lemak
 Di Sumbawa kami menginap di Hotel 99. Meski tidak terdapat keterangan secara tertulis untuk menyatakan makanan dihotel halal, akan tetapi Mayoritas penduduk Sumbawa beragama Islam dan kebanyakan menu makanan yang disajikan adalah seafood.
Tujuan kami hari ini adalah Pulau Moyo. Perjalanan ke dermaga memakan waktu 30 menit berkendara melintasi jalan raya dan jembatan SAMOTA (Teluk Saleh-Pulau Moyo-Gunung Tambora). Untuk menyeberang ke Pulau Moyo kami menaiki speedboat dari dermaga Hotel Samawa Resort selama kurang lebih 30 menit. Tujuan utama kami hari ini adalah Air Terjun Mata Jitu yang disebut juga Lady Di Pool karena pada saat Lady Di berkunjung ke Pulau Moyo beliau sempat berendam di Air Terjun tersebut. Sebelum mencapai tujuan utama kami dipulau moyo kami diajak untuk snorkeling di Poto Jarum dan bermain di pantai.
Untuk mencapai Air Terjun Mata Jitu kami bersandar di pelabuhan Labuan Aji, Pulau Moyo. Dari Labuan Aji kami harus menempuh perjalanan off road sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor melewati pemukiman warga dan hutan lindung Pulau Moyo. Setelah offroad dengan sepeda motor, kami harus menyusuri jalan setapak sekitar 10 menit. Ada beberapa kolam di air terjun ini, namun yang paling populer adalah kolam kedua. Kami pun memutuskan untuk berenang di kolam ketiga karena di sini hanya ada kami, serasa kolam renang milik pribadi.  Kami menghabiskan waktu sampai tengah hari menikmati Air Terjun Mata Jitu.  Setelah selesai makan siang dan rehat sejenak, kami kembali naik speedboat untuk snorkeling di Takat Segale. Takat Segale merupakan pulau pasir timbul dikawasan Pulau Moyo. Ketika kami sampai di Takat Segale ternyata arus dibawah air agak kencang sehingga kami tidak bisa berlama-lama snorkeling. Kami hanya sempat snorkeling sekitar 10 menit namun sempat melihat ikan hiu melintas di sekitar kami (wow!). Kemudian kami kembali ke dermaga Samawa Resort, tapi perjalanan kami hari ini belum selesai sampai disini. Setelah bersih-bersih di Samawa Resort kami menutup perjalanan hari ketiga dengan melihat sunset di Pantai Ai Lemak.
Hari Keempat - Gili Bedil dan Istana Dalam Loka
Inilah hari terakhir mengeksplore Sumbawa karena besok kami akan kembali ke Jakarta pagi-pagi. Karena kami sangat suka bermain di pantai, Mas Rio kami menawarkan hari terakhir untuk island hopping ke Gili Bedil. Perjalanan menuju Gili Bedil menempuh waktu 1 jam ke arah daerah Poto Tano dan sekitar 5 menit menyeberang menggunakan speedboat . Gili Bedil atau bisa juga disebut Pulau Bedil merupakan salah satu gugusan pulau di utara Sumbawa yang tidak berpenghungi dan memiliki luas hanya satu hektar. Disebut Bedil, dikarenakan pulau tersebut berbentuk menyerupai peluru. Kami menikmati bermain pasir, berenang di pesisir pantai, mengelilingi pulau, mengumpulkan berbagai jenis cangkang kerang, dan snorkeling untuk terakhir kalinya. Setelah puas bermain di Gili Bedil kami kembali ke pusat kota untuk mengunjuki Istana Dalam Loka yang merupakan saksi sejarah yang memperlilhatkan kejayaan Kesultanan Sumbawa pada zamannya. Liburan di Sumbawa pun ditutup dengan menikmati sunset dan makan malam di pinggir laut di daerah Teluk Saleh dengan menu aneka seafood.
Hari kelima - Pulang ke Jakarta
Waktunya berpisah dengan keindahan Sumbawa dengan makanannya yang menggugah selera. Liburan kali ini bagi saya beyond expectation. Luar biasa dan masih terbayang hingga saat ini. Bahkan dapat dikatakan kalau Sumbawa akan kembali kami kunjungi nanti.  Punya pengalaman liburan domestik di tanah air yang tak kalah menarik seperti Rakhma? Atau ingin membagikan cerita dan tips travelling untuk sesama Muslim? Kontak kami lewat email ke [email protected] atau kirim pesan ke DM Instagram HHWT.