icon
icon
article hero

Traveller Indonesia Berbagi Pengalaman Mereka Menjelajah Dunia, Ini Kisahnya

AvatarName

Sastri •  Sep 30, 2020

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan. Musim gugur September 2015. Aku duduk di bangku panjang tepat di pinggir Meuse, salah satu sungai utama di Eropa. Suhu menunjukkan angka 18 derajat Celcius, takaran yang tepat untuk berjemur di bawah matahari pagi. Aku mengambil nafas dalam-dalam, menggembungkan paru sekuat-kuatnya, berharap udara bersih ini akan bertahan dalam tubuh sampai minggu depan kembali ke Jakarta. Di seberang sungai, warga Kota Maastricht hilir-mudik di trotoar. Ada yang berjalan cepat sambil menggengam kopi di tangan. Ada yang sambil berlari, membawa serta anjing kesayangan. Puluhan orang lain bersepeda, pemandangan yang sangat awam di Belanda. [caption id="attachment_103701" align="aligncenter" width="1080"]
Kredit: Sastri[/caption] Kupasang headset, kupencet playlist yang satu minggu belakangan menjadi teman perjalanan. Terputarlah lagu Banda Neira. Dan kawan, bawa ku tersesat Ke entah berantah Tersaru antara nikmat atau lara Mataku terpejam karena hembusan angin musim gugur. Begitu membuka mata, betapa kagetnya, sesosok wanita berambut hitam tersenyum dari bangku sebelah. Senyumnya semakin lebar. Aku terpaku. Masih sambil tersenyum, dia berdiri lalu berjalan ke arahku. Berpeganglah erat, bersiap terhempas Ke tanda tanya Tidak, jalannya tidak terseok-seok dan tidak, dia tidak mengenakan jubah putih panjang. Oh ya, kakinya juga menapak tanah :p Dari senyuman lebar, bibir perempuan itu berubah menjadi senyum simpul. Sekarang dia sudah duduk manis di sampingku. Jika diperhatikan wanita ini cantik sekali: rambutnya hitam dan bergelombang, menjuntai sampai pinggang. Hidungnya mancung ala Kaukasian, freckles di hidung dan pipinya juga tampak nyata. Garis wajahnya tampak jelas, kutaksir mungkin dia berusia 40-an. “Where are you come from?” Aku baru saja mau menunjuk ke arah belakang dan menjawab hotel tempatku menginap, tapi kemudian dia bertanya lagi, “Malaysia?” “Indonesia,” jawabku. Dia terperangah. Kemudian dia berkata, baru kali ini ia bertemu seorang traveler Muslim, mengenakan hijab, bepergian seorang diri sampai ke kota kecil di barat daya Belanda. Biasanya, tipe traveler seperti itu berasal dari Malaysia. “Rasanya sangat jarang menemukan perempuan Indonesia traveling seorang diri,” tuturnya. Kami mengobrol sebentar, lalu dia izin pamit. Sebelum berlalu, ia bertanya satu hal. “Can I touch your hijab?” Aku mengangguk. Ia tersenyum. “Beautiful. Beautiful.” [caption id="attachment_103699" align="aligncenter" width="1080"]
Kredit: Sastri[/caption] Ada sebuah kebanggaan ketika mengucapkan “Indonesia” kepada penduduk dunia di negara lain. Aku sadar betul Indonesia tidak bisa disandingkan dengan negara-negara maju lainnya, termasuk beberapa yang kudatangi sebelumnya. Tapi fakta bahwa aku datang dari salah satu negara paling eksotis dan “kaya” di dunia tidak bisa ditampik. Ketika berucap “Indonesia”, rasanya ingin sekali kudeskripsikan kekayaan alam dan budayanya, tradisinya dari A-Z, bagaimana sebuah entitas berisikan ribuan bahasa daerah bersatu di bawah bendera Merah Putih. Hal itu terbukti dalam banyak momen. Salah satunya adalah ketika aku duduk di kereta dari Brussels ke Amsterdam. Pada bangku yang menghadap ke arahku, duduk seorang pria paruh baya. Ia menghadap jendela sambil memegang buku. Sampul buku itu tampak jelas: Lonely Planet: Komodo. Tak ada angin tak ada hujan, aku langsung berdiri tegak seperti hendak upacara dan berkata lantang “That’s my country!” Pria itu, tentu saja, kaget bukan kepalang. Tapi kemudian kami mengobrol sepanjang perjalanan. Tentang rencananya mengunjungi Komodo tahun depan. Tentang live on board yang waktu itu masih segelintir pemainnya. Tentang niatan meminang kekasihnya di depan komodo yang sedang asyik berjemur, dengan ranger lokal sebagai saksinya.
Kisah inspiratif lainnya saat menjelajah dunia juga dirasakan oleh beberapa traveller lainnya asal Indonesia. Di bawah ini, kamu akan membaca kisah beberapa orang dengan benang merah yang sama: kebanggaan akan Indonesia, keinginan yang tinggi untuk mengenal dunia luar, dan keyakinan bahwa Bumi dipenuhi orang baik terlepas dari apapun identitasnya ?
Muhammad Arif Rahman
Sebagai seorang pejalan, Muhammad Arif Rahman(@arievrahman) punya banyak pengalaman ketika berkunjung ke sebuah negara. Sejak 2012 ia menjadi penulis perjalanan, dan telah menginjakkan kaki di 45 negara. Kamu bisa membaca blog perjalanannya di sini. Salah satu kisah paling menarik adalah ketika ia berkunjung ke Moskow, Rusia, pada Desember 2017. Pada waktu itu, oleh temannya, Arif dikenalkan dengan seorang warga Rusia. Sasha namanya, pria dengan usia kisaran 40 tahun. Tingginya sekitar 170 cm dengan kulit Kaukasian, mata besar, sedikit gempal, dengan senyum yang hangat. “Waktu itu aku ditemani warga lokal, Sasha namanya. Dia suka banget sama Indonesia. Kayaknya dia lebih bisa berbahasa Indonesia dibanding Bahasa Rusia. Dia cerita kalau pernah traveling ke Indonesia, pernah tinggal di Indonesia juga. Saking senangnya dengan Indonesia dia berteman dengan orang-orang di KBRI Moskow.” [caption id="attachment_103703" align="aligncenter" width="1280"]
Kredit: Arif Rahman[/caption] Pertemuan itu berbuah pertemanan. Terkadang, hal yang paling membekas saat melakukan perjalanan bukanlah destinasinya, melainkan orang-orang yang kita temui. “Traveling mengubah hidupku, bagaimana aku melihat sesuatu dan keberagamannya. Traveling membuatku menjadi orang yang lebih baik, lebih berpikiran terbuka. Banyak pelajaran hidup yang didapatkan dari traveling, terutama pada rasa percaya bahwa diri sendiri bisa bertahan dalam berbagai situasi.”
Edna Tarigan
Sebagai seorang jurnalis, Edna Tarigan (@edededan) sangat gemar traveling dengan cara berjalan kaki di sekitar tempat menginap. Ia juga sangat suka mengobrol dengan warga lokal, serta mendokumentasikan perjalanan. Kamu bisa membaca kisah dan foto perjalanannya di sini. Salah satu kisah perjalanan yang membekas bagi Edna adalah kunjungannya ke Mesir pada Mei 2012. [caption id="attachment_103704" align="aligncenter" width="1280"]
Kredit: Edna Tarigan[/caption] “Waktu itu aku habis ziarah religi dari Israel sampai Mesir. Ketika jalan berdua dengan ibu di sebuah pasar di Mesir, tidak sengaja kami bertemu dengan beberapa turis Indonesia. Mereka tampaknya berusaha untuk menawar harga, namun kesulitan dalam berbahasa Inggris. Akhirnya aku ikut menawar harga barang tersebut untuk mereka.” Hal ini menjadi pelajaran untuk Edna, bahwa meski berada di luar negeri, ia bisa berkontribusi dan membantu sesama wisatawan. Kebetulan turis yang dibantu juga berasal dari Indonesia, namun peristiwa itu membuka matanya untuk lebih terbuka dan dalam membantu orang lain semampunya. Selain, tentu saja, menambah pengetahuan akan tempat-tempat lain yang belum dikenalnya.
Astri Apriyani
Tidak semua perjalanan bersinggungan dengan Indonesia. Beberapa kisah membuktikan indahnya persaudaraan dan kebaikan antar sesama manusia. Hal itulah yang Astri Apriyani (@atre7) rasakan saat berkunjung ke Sa Pa, Vietnam, 2019. Kamu bisa membaca kisah-kisah perjalanannya di sini. “Usai perjalanan enam jam naik sleeper bus dari Hanoi, kami tiba di tempat pemberhentian terakhir bus di Sa Pa. Tempat itu seperti terminal luas yang lengang. Waktu itu masih terlalu pagi, dan kami tidak tahu akan menggunakan transportasi apa dari terminal bus menuju hotel.” “Tiba-tiba, seorang lelaki yang tadi satu bus dengan kami menghampiri. Ia bisa berbahasa Inggris. Syukurlah, rasanya semacam minum es campur di siang hari! Dia bertanya, mau ke mana? Temanku yang memegang maps langsung menunjukkannya ke arah lelaki tersebut, Nelson namanya.” “Nelson kemudian bolak-balik dari shuttle bus kecil di seberang jalan, berbincang dengan supirnya, kemudian dia berkata bahwa kami bisa ikut bus mungil tersebut. Di dalam shuttle bus, kami menyadari bahwa Nelson menjadi penyelamat kami saat itu.” [caption id="attachment_103705" align="aligncenter" width="576"]
(dok. Astri Apriyani)[/caption] Baik bagi Arif, Edna, Astri, bahkan saya sendiri, traveling bukanlah bentuk eksistensi. Perjalanan adalah bentuk untuk mengenal ciptaan Tuhan yang tak terhitung jenisnya. Bagi Arif dan Astri, menjadi seorang Muslim tidak menjadi kendala untuk belajar dan membuka pikiran secara lebih luas. Bagi Edna yang merupakan non-Muslim, faktanya, tidak ada identitas apapun yang menghalanginya untuk membantu sesama dalam perjalanan ?