icon
icon
article hero

Sunset Menawan Hingga Atraksi Budaya Khas Lombok di Gili Air

AvatarName

Tiara  •  Oct 22, 2020

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan.  Artikel ini ditulis oleh kontributor HHWT, Dodi Wiraseto. Kamu bisa menggali pengalaman traveling Dodi lainnya lewat akun Instagram-nya @wiraseto Di tepian laut di Desa Pakraman, Bali, puluhan turis mancanegara dan nusantara berbaris rapi di bangunan beratap jerami. Raut muka menunggu dengan antusias cukup kentara. Ya, Desa Pakraman, Bali ini kini memiliki satu pelabuhan baru bernama Segara Kodang Pemelisan, yang akan mengantarkan wisatawan ke pulau-pulau di luar Bali besar. Raut antusias para calon penumpang kapal cepat senada dengan saya yang serasa sudah tidak sabar menyebrang menuju Gili Air, Lombok. Setelah mendapat gelang bertuliskan tujuan, saya dipersilahkan untuk menuju kapal cepat saya bertuliskan NS Boat. Tidak lama setelah seluruh penumpang lainnya naik ke dalam, kapal saya mulai melaju meninggalkan pelabuhan yang baru 2018 lalu dibuka.
 “Kita menyebrang sekitar tiga jam sampai nanti di Gili Air,” ujar Agung, awak kapal yang mengantar menuju Gili Air. Langit mendung tidak lagi mampu menutup keceriaan saya menyebrang Selat Lombok. Selama perjalanan panorama dataran tinggi Bali mendominasi, bahkan di tengah-tengah perjalanan, segerombolan lumba-lumba berkumpul di sekitar kapal cepat saya. Hiburan alam bebas yang tidak akan ditemukan di taman tematik manapun. Selang tiga jam perjalanan, pelabuhan sederhana Gili Air sudah terlihat. Di sisinya Pulau Lombok dengan ciri perbukitan yang khas menjadi latar menawan. Sayangnya Gunung Rinjani yang ikonik tertutup awan tebal hari ini. Beberapa kru kapal cepat saya sudah menunggu dan di atas pelabuhan sederhana dengan laut biru gradasi hijau tosca ini perjalanan mengitari Gili Air segera dimulai. 
Suasana yang hangat disertai aktivitas perekonomian warganya yang mulai menggeliat pasca gempa bumi. Di sepanjang tepian pantainya, tenda-tenda berwarna-warni diisi oleh wisatawan asing yang sedang menikmati makan siangnya. Cidomo, kendaraan yang ditarik kuda khas gili-gili di Lombok sudah menunggu. Sama halnya dengan Gili Trawangan dan Gili Meno, di Gili Air kendaraan bermotor adalah hal tabu. Jadi selama di sini, transportasi utama hanya Cidomo dan sepeda yang banyak disewakan oleh warga. Sepanjang mata memandang, saya disuguhkan oleh bentang laut jernih dan berkilau diterpa sinar matahari. Pemandangan yang seakan mengintimidasi saya untuk segera berenang. Apalagi cuaca semakin sore semakin cerah.
Setelah meletakkan semua barang bawaan di Mola-Mola Resort, sebuah tempat menginap yang bergaya rumah khas Suku Sasak, saya bergegas menuju pantai melepas penat dari aktivitas perkotaan sehari-hari. Berenang, bersantai dan bermain ayunan benar-benar melepas stres. Yang saya ingat hanya satu, bahagia.
Riuh Budaya Gendang Beleq
 Di tengah keceriaan bermain di tepi pantainya, sekelompok orang berpakaian ungu serta membawa aneka alat musik menuju ke tepi pantai. Tampilannya yang kontras langsung menjadi pusat perhatian wisatawan. Mereka ternyata adalah pemain Gendang Beleq dan tergabung dalam Gendang Beleq Keluarga Rahayu. Gendang Beleq merupakan salah satu kesenian yang berasal dari Suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kesenian ini memiliki arti sangat penting dan penuh makna, karena dahulu diciptakan untuk menyambut kemenangan pasukan perang pada era kerajaan Lombok. "Dulu sepulang pasukan perang membawa kemenangan dan dihiburlah dengan Gendang Beleq,” ujar Jatriyadi, Pengurus Gendang Beleq Keluarga Rahayu. Seiring berkembangnya waktu, kesenian tradisional ini akhirnya digunakan untuk memeriahkan arak-arakan dalam acara pernikahan ataupun khitanan. Karena dalam tradisi masyarakat Lombok, acara pernikahan dan khitanan pasti disambut dengan sebuah arak-arakan. Tidak hanya itu, kini Gendang Beleq juga kerap dijadikan sebagai penyambut tamu-tamu penting. Dalam satu pagelaran, Gendang Beleq biasanya beranggotakan minimal 20 orang yang memegang bermacam alat musik. Alat-alat tersebut antara lain seruling, somprang atau simbal kecil, rincik, riong atau kemong, oncer, gong. Serta yang paling ikonik adalah Gendang. Sesuai namanya, Gendang Beleq artinya Gendang besar, para pemegang Gendang Beleq biasanya berbaris rapi dan beratraksi seirama dengan pemain gendang lainnya. 
Menanti Senja di Tepian Pantai
 Tanpa terasa matahari semakin dekat dengan ufuk barat. Biru cerah langit, perlahan tergantikan oleh rona jingga kekuningan. Setelah ikut dalam kegiatan melepas penyu ke laut bebas saya melanjutkan dengan aktivitas di tepi pantainya. Menikmati sunset dengan merebahkan diri di bean bag yang disediakan café dan restoran tepi pantai. Menikmati camilan dan kelapa muda, sebelum matahari benar-benar tenggelam jadi penutup hari yang menyenangkan di Gili Air. 
Langit senja begitu menggoda. Sebegitu indahnya gili ini, membuat saya selalu bersyukur bahwa Indonesia diberkahi bentang alam menawan. Lombok layaknya Bali baru untuk Indonesia. Tempat berlibur, melepas penat dan sejenak melupakan segala aktivitas sehari-hari yang padat. Tenang, damai dan desiran ombok yang menenteramkan.