icon
icon
article hero

Serasa di Andalusia, Berkunjung ke Masjid Raya Paris

AvatarName

Tiara •  Oct 27, 2020

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan.Artikel ini ditulis oleh kontributor HHWT, Rantje Dj. Artikel telah diedit untuk menyesuaikan panjang dan agar lebih jelas. Kamu bisa menggali pengalaman traveling Rantje lainnya lewat akun Instagram-nya @bebekdekil. Siapa sih yang tidak ingin mengunjungi kota Paris? Sebuah kota yang selalu dikaitkan dengan romantisme, makanan lezat, serta museum-museum yang megah. Ketika menyusun itinerary perjalanan Paris, tentunya kita sudah memasukkan situs wisata wajib seperti Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Louvre, Musse D’Orsay, hingga tempat belanja favorit di Champs Elysses. Namun ada satu tempat yang selalu saya kunjungi di sana, yaitu Le Grand Mosquee de Paris.
Bisa dibilang ini adalah tempat yang tak pernah luput untuk saya kunjungi ketika berada di Paris. Sebuah oase yang tenang dan welcoming di tengah hiruk pikuk kota Paris. Lokasinya berada di Arrondisement 5 dan dapat disambangi dengan menggunakan metro maupun bis. Tentunya saya paling senang menggunakan bis karena bisa sekaligus memandangi keindahan kota tersebut. Sesampainya di salah satu masjid terbesar di Prancis ini, kita bisa membaca sebuah signage yang menceritakan tentang sejarah didirikannya masjid tersebut. Masjid ini dibangun pada tahun 1922 dan memakan waktu selama 4 tahun. Masjid ini juga dibangun sebagai wujud apresiasi untuk 100.000 pejuang muslim yang wafat untuk Prancis.
Ketika kita masuk ke dalam masjid, kita dapat memilih untuk berkunjung sebagai wisatawan maupun untuk beribadah. Jika bertujuan untuk wisata, wisatawan dapat berkeliling di di area masjid dan dapat menggunakan jasa pemandu resmi yang disediakan. Jika ingin langsung beribadah, pria maupun wanita akan diarahkan ke tempat wudhu serta ruang sholat yang berbeda. Ketika berwudhu, pastikan bertegur sapa dengan sang penjaga. Seorang ibu paruh baya yang gemar mengobrol dan menceritakan sejarah masjid tersebut. Namun sang Ibu hanya bisa berbicara dengan bahasa Prancis dengan beberapa kata-kata dalam bahasa Inggris. Setelah berwudhu, sang Ibu juga seringkali mengantar ke ruang sholat. Walaupun mukena disediakan, tapi di saat pandemi seperti sekarang ini sebaiknya kita membawa mukena serta sajadah kita sendiri ya. Setelah selesai sholat, kita lalu bisa mengunjungi sisi lain dari masjid ini. Komplek masjid ini sangat luas dengan total lahan mencapai 7.500 meter persegi. Masjid ini mengadopsi gaya arsitektur Maroko dan terinspirasi dari masjid Al Qarrawiyyin di Fez. Ada minaret setinggi 33 meter yang dapat dilihat dari kejauhan. Masjid ini memiliki juga beberapa area seperti taman, perpustakaan, madrasah, serta terkoneksi dengan sebuah restoran dan kedai teh.
Ketika memasuki area taman, sekilas mengingatkan kita kepada masjid-masjid di Maroko dan Andalusia karena penggunaan teknik mosaik keramik pada dindingnya. Sungguh pemandangan yang khas. Pemandangan pun semakin indah dengan adanya air mancur di bagian tengah taman dan beberapa kolam kecil. Bagaikan sedang berada di Andalusia dan bukan di Paris. Keindahan ini tidak bisa dipungkiri, terbukti dengan banyaknya pengunjung yang berswafoto maupun mengambil beberapa foto lanskap di area tersebut. Selanjutnya, kita bisa mengunjungi kedai teh atau resto yang berada di kompleks masjid ini. Restoran bernama Aux Portes de l’Orient ini menyajikan makanan khas kuliner Maghreb seperti tagine dan couscous. Jika tidak ingin makanan yang berat, langsung saja mampir ke kedai teh yang menyajikan mint tea yang pekat serta berbagai pilihan pastry yang khas seperti baklava berisikan pistachio. Di kedai teh ini juga ada hammam atau pemandian khas Turki untuk wanita yang ternyata juga populer untuk dikunjungi penduduk setempat.
Jika ingin berkunjung, tentunya masjid ini buka setiap hari untuk keperluan ibadah. Namun untuk wisata, tutup setiap hari Jumat. Untuk transportasi umum, jika menggunakan metro dapat menggunakan Line 7 dan turun di stasiun Place Monge atau menggunakan bis nomor 47, 67, dan 89. Untuk wisata, akan dikenakan tarif 3 Euro dan tarif ekstra untuk pemandu resmi. Kamu pun bisa berbagi cerita dan tips traveling untuk membantu sesama traveler Muslim. Caranya cukup dengan klik halaman ini atau hubungi tim HHWT lewat email [email protected] dan DM Instagram. Simak juga cerita traveling dari kontributor HHWT lainnya berikut ini: