icon
icon
article hero

Saya Tidak Paham Kenapa Banyak Orang Menyukai Jepang, Sampai Saya Melakukan Perjalanan Solo Ke Tokyo

AvatarName

Maf Ismail  •  Jan 06, 2020

icon

[Artikel ini aslinya ditulis oleh Faruq Senin. Kamu bisa membaca versi berbahasa Inggris yang ditulisnya di halaman ini.] Bagi kebanyakan orang, Jepang adalah salah satu destinasi travel yang wajib dikunjungi. Sayangnya hal itu tidak berlaku untuk saya. Bisa jadi karena waktu kecil saya tidak menonton anime atau pun membaca komik Jepang. Seingat saya, dulu di Singapura, tempat saya tumbuh besar, kedai makanan halal Jepang sangat sedikit -- sepertinya waktu itu orang-orang Singapura tidak terlalu tertarik dengan budaya Jepang. Kredit: GIPHY Tapi semua itu dulu, kalau sekarang kamu tanya apakah saya suka Jepang, jawabannya pasti IYA! Apa sih yang bisa membuat saya berubah pikiran? Ini dia cerita bagaimana saya jatuh cinta dengan Jepang ❤️ P.S. Jelajahi Jepang dengan panduan 7 hari 6 malam yang ramah muslim ini -- sudah termasuk ke Tokyo, Kyoto, dan Osaka loh!
Pengalaman Pertama ke Jepang
 Saya ke Jepang pertama kali tahun 2013. Waktu itu, saya sedang liburan semester dan ibu menawarkan saya dan kakak untuk liburan ke Jepang mengikuti sebuah grup tur. Biasanya, saya akan menolak kalau bepergian dengan grup tur, tapi saat itu saya cukup lelah setelah melewati ujian semester sehingga tawaran ibu terlihat menarik. Rutenya Tokyo, Hakone/Gunung Fuji, Nagoya, Kyoto, dan Osaka dalam 6 hari -- meskipun Jepang tidak ada dalam daftar destinasi impian saya, sayang sekali kan kalau saya menolak tawaran itu. 😅 
Sampai di sana, pemandangan yang saya temui memang super indah. Turnya membawa kami ke lereng Gunung Fuji, di mana kita bisa melihat Gunung Fuji yang megah tanpa ada penghalang. Kami juga bisa melihat keindahan Hakone dan pemandangan alam di sekitarnya. Saat itu, saya tiba-tiba ingat untuk bersyukur karena bisa menyaksikan pemandangan tersebut.
Plus, pemandu turnya yang bernama Nakano sangat ramah dan memperhatikan kebutuhan kami. Karena semua peserta tur ini muslim, Nakano menyediakan bekal makanan yang ramah muslim, dan saat kami ingin salat, ia juga memberikan kami kesempatan, meskipun ia tetap berusaha keras untuk menjaga jadwal tur tetap tepat waktu -- ya selayaknya kebiasaan orang Jepang. Sampai kapan pun saya akan selalu ingat betapa bagusnya cara ia bekerja. 😊  Meskipun begitu, saya masih merasa ada yang kurang. Banyak orang bilang saya pasti akan menyukai Jepang, tapi saat kunjungan pertama itu saya masih belum merasakan ada hal yang spesial dari Jepang. Betul Jepang sangat indah, tapi semuanya begitu rapi dan tertata. Negaranya hampir seperti tidak punya "jiwa". Ditambah lagi ada pengalaman kurang enak dengan salah satu pelayan di Nagoya. Tadinya saya yang menganggap standar Jepang sangat tinggi tiba-tiba agak kecewa karena pengalaman itu.    Jangan salah paham dulu -- liburan di Jepang berjalan lancar, tapi itu mungkin karena saya mengikuti kelompok tur yang menyenangkan. Saya tidak sempat berkenalan dengan orang-orang selain Nakano dan saat itu, saya hanya bisa melihat Jepang dari kacamata seorang turis. Perlu beberapa waktu untuk saya tertarik mengunjungi Jepang lagi.
Kesempatan Kedua Mengunjungi Jepang
Biasanya kalau pengalaman pertama kurang bagus, orang akan malas mencoba lagi, tapi kali ini saya memberikan Jepang kesempatan kedua. Saya pikir kalau orang-orang sangat memuji Jepang, pasti ada alasan kuat kan, mungkin saya belum menemukan alasannya saja. Ketertarikan saya ke Jepang untuk yang kedua kalinya muncul setelah kakak saya pulang dari Jepang. Ia bercerita tentang petualangannya sendirian menjelajahi Jepang -- mulai dari menggunakan sistem kereta api Jepang yang terkenal rumit jalurnya, sampai menyantap makanan Jepang yang lezat dan halal. Beberapa bulan setelah itu, ada promo tiket pesawat ke Jepang dari All Nippon Airways (ANA). Saya pun langsung membeli tiket. Kebetulan saat itu bulan kelima saya bekerja, jadi saya butuh liburan☺️ Ditambah lagi, waktu itu musim gugur dan saya belum pernah merasakan musim ini. Jadi saya sangat senang bisa kembali mengunjungi Jepang!  Di kunjungan kali ini, siapa yang tahu saya bisa jatuh cinta dengan Jepang? 
Tokyo, kota yang tidak ada duanya
Buat saya, kunci untuk mengenal suatu negara ada di kotanya. Di sini kita bisa melihat bagaimana kehidupan sehari-hari warga lokal, berinteraksi dengan mereka, dan mengamati bagaimana sebuah kota beroperasi. Saya tahu populasi kota Tokyo sangat besar (sekitar 13 juta jiwa), tapi baru ketika benar-benar di sana saya menyaksikan sendiri bagaimana PENUHnya kota itu dengan manusia. Iya, kota itu sangat penuh, tapi anehnya, saya tidak merasa sesak di sana. Mungkin saja itu karena euforia saya sebagai traveller atau karena kebetulan saya memang suka dengan perkotaan.
Saya suka energi dan hiruk pikuk yang saya rasakan selama perjalanan di Tokyo. Saya ingat bagaimana serunya saat menyebrang di Shibuya Crossing -- saya melakukannya 5-6 kali loh 😂 dan setiap kali menyebrang, saya merasakan adrenalin yang terpompa. Orang asli Jepang kelihatan biasa saja melihat pemandangan itu -- pastinya mereka sudah terbiasa. Para turislah yang biasanya mengambil foto atau video dan berpose di penyeberangan Shibuya ini. 
 Saya pernah mengunjungi beberapa kota besar lain seperti London, New York, dan Hong Kong, tapi Tokyo berbeda. Saya suka kota ini memadukan segalanya, antara tradisi dan modernitas. Saya suka pengalaman menelusuri jalanan yang ramai lalu tiba-tiba menemukan gang-gang yang penuh dengan toko-toko unik, atau berhenti sejenak mencari ketenangan di taman yang sepi.  Saya bisa merasakan, Tokyo bukan hanya sekedar kota, dan meskipun ini kali kedua saya ke Jepang, kunjungan ke Tokyo ini membuka mata saya akan budaya Jepang dan orang-orangnya 😍 P.S. Mau menjelajahi Tokyo? Baca dulu itinerary ke Tokyo 6 hari 5 malam yang ramah muslim ini!
Menemukan ketenangan di dalam kota
Kamu mungkin berpikir Tokyo sangat “kota”, sangat besar dan penuh dengan gedung-gedung. Tapi sebenarnya, meskipun Tokyo sangat besar, ada banyak ruang terbuka hijau dan taman untuk umum.
Saya bisa menemukan sisi lain tersebut mungkin karena saya bepergian sendiri. Saya jadi punya kesempatan untuk menjelajahi distrik-distrik yang berbeda dengan tempat yang biasa didatangi turis. Selama seminggu di sana, saya menjelajahi daerah yang kurang populer di kalangan turis, misalnya Daikanyama, Shimokitazawa, Setagaya, dan Naka-meguro.
Ternyata tempat-tempat itu hanya 5-10 menit jauhnya dari distrik yang ramai seperti Shibuya/ Shinjuku 😱
 Salah satu tempat yang paling saya suka adalah Skycarrot di distrik Setagaya. Di sini saya bisa melihat pemandangan kota dari atas -- tempat ini bebas biaya masuk loh! Karena sudah ke tempat ini, saya jadi tidak perlu mengunjungi Tokyo Skytree dan berjibaku dengan kerumunan orang di Tocho (Tokyo Metropolitan Government Building) untuk melihat pemandangan kota dari atas. Menariknya lagi, orang-orang yang berkunjung ke Skycarrot kebanyakan warga lokal. 
Saya juga sempat pergi ke Gunung Takao, yaitu wisata alam yang jaraknya hanya sejam berkereta dari Shinjuku. Kalau hari cerah, kamu akan bisa melihat pemandangan kota Tokyo dan bahkan Gunung Fuji dari sini! Saat perjalanan pertama saya ke Jepang, kami hanya menginap semalam di Tokyo dan mengunjungi Tokyo Disneyland yang saya rasa kurang merepresentasikan kota tersebut. Dalam perjalanan saya yang kedua ini, saya bisa melihat lebih banyak sisi Tokyo yang membuat pandangan saya terhadap kota ini berubah. Dulunya saya selalu berpikir Tokyo seperti kota biasa, tapi setelah perjalanan ini saya jadi tahu lebih banyak dan punya minat untuk  menjelajahi bagian Jepang yang lain.
Transportasi umum yang efisien
Siapa pun yang pernah ke Tokyo pasti setuju kalau di sana transportasi umumnya sangat efisien. Ini bukan berlebihan kok. Setiap kali saya naik transportasi umum, saya selalu kagum bagaimana jadwal dan rutenya begitu banyak dan semua bergerak cepat seperti jarum jam. Kereta datang setiap dua menit sekali, sementara jalur yang tersedia begitu banyaknya, terutama di stasiun besar seperti Shinjuku, Shibuya, Ueno, yang sampai sekarang masih membuat saya terpukau. Saya selalu heran bagaimana semua beroperasi dengan mulus meskipun jumlah penumpangnya sangat banyak.
 Sistem kereta api di Jepang, boleh dibilang membingungkan sekaligus mengasyikkan. Tadinya saya bingung karena ada berbagai jenis jalur -- semi-express, limited express, lokal, dan sebagainya. Saking banyaknya, terkadang saya tersesat -- tapi seru karena saya menemukan jalan pulang. Di kunjungan kedua ini, saya bisa juga merasakan serunya menjelajahi Jepang, tidak seperti saat kunjungan pertama saya. 
Selama perjalanan ini, ternyata menggunakan Google Maps sangat membantu saya! Jadwal yang ditunjukkan Google Maps sangat akurat, termasuk petunjuk untuk menggunakan kereta mana dan lokasi peronnya. Aplikasi lain yang juga bisa digunakan di antaranya Hyperdia dan Japan Navitime yang dibuat khusus untuk navigasi di Jepang. Selain sistem transportasi umumnya, orang Jepang juga tidak kalah membuat saya takjub. Mereka bergerak sangat cepat dan teratur. Jam-jam sibuk sangat ramai tapi orang-orang dengan tertib bergerak memberikan ruang kepada orang lain jika diperlukan. Meskipun ada kerumunan penumpang, mereka tidak berisik, sehingga perjalanan menggunakan transportasi umum tetap nyaman.
Melihat penduduk Jepang lewat kacamata saya
Satu hal yang saya sukai dari perjalanan solo saya ke Jepang adalah bisa mengamati kehidupan dan kebudayaan warga lokal. Seperti bepergian sendiri membuat saya lebih fokus mengamati sekeliling saya.
 Saya mengamati para ibu rumah tangga bertemu di Stasiun Daikanyama menggunakan kimono saat hari kerja. Mereka mengingatkan saya pada ibu rumah tangga di mana pun yang juga suka bercengkerama, tertawa, atau sekedar ngobrol soal hidup. 
Selain itu, saya juga melihat para orang tua yang menunggui anak-anaknya yang asyik bermain di taman bermain sekitar tempat tinggal mereka.
Saya juga mengamati bagaimana warga lokal saling berinteraksi sesama mereka, melihat anak-anak sekolah berumur 7 atau 8 tahun pulang sekolah sendirian membawa ransel imut berbentuk kotak, dan pemandangan-pemandangan lainnya. Bagi saya, mengamati warga lokal membantu melunturkan persepsi saya sebelumnya pada mereka. Ternyata mereka tidak sedingin dan sekaku yang saya kira sebelumnya; mereka sama saja seperti orang-orang pada umumnya.
Makanan Jepang Halal
Salah satu yang paling ingin saya lakukan dalam perjalanan ini adalah mencicipi makanan Jepang yang halal. Saya sudah banyak mendengar soal perkembangan kuliner halal di Tokyo (sejak tahun 2016) dan juga dari cerita-cerita dari kakak saya. Tidak ada kata lain, saya sangat kagum dengan standar halal makanan Jepang di Tokyo. Selain itu, semakin banyaknya jumlah kedai yang berusaha membuat menunya ramah muslim menjadi pertanda mulai diterimanya para pelancong Muslim. 🤗 Yang membuat saya takjub, saya bisa menyantap makanan Jepang halal di Tokyo setiap hari karena pilihan makanannya begitu beragam. Kamu tidak perlu khawatir harus menjadi vegetarian atau hanya makan seafood loh! P.S. Untuk mengecek apakah makanan yang kamu santap ramah muslim,  kalimat-kalimat dalam bahasa Jepang dari kami ini mungkin bisa membantu .
Orang bilang, kalau mau belajar budaya sebuah negara lewat makanannya. Salah satu yang paling berkesan buat saya waktu itu adalah pengalaman makan di Shinjuku Gyoen Ramen Ouka, kedai ramen halal yang sangat terkenal di Tokyo. Karena kedai ini sangat kecil, saya mengantre cukup lama (sekitar 1 jam) dalam udara dingin. Meskipun begitu, penantian itu terbayarkan saat makanan disajikan. Satu set menunya terdiri atas semangkuk ramen, yakitori, ayam panggang, dan nasi putih. Walaupun di meja terdapat petunjuk cara menyantap ramennya, salah seorang pemilik kedai (yang kebetulan muslim asli Jepang) tetap menjelaskan kepada saya cara menyantap ramen yang benar. Jadi, setelah makan ramen, kuahnya dituang ke dalam semangkuk nasi (disebut ochazuke), lalu nasinya disantap dengan kuah tersebut. Menikmati hidangan ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi solo traveller seperti saya. Pemilik kedai tersebut bahkan menyuguhkan teh setelah saya selesai makan. Saya jadi bisa mengobrol dengannya dan bertanya dari Jepang bagian mana ia berasal dan bagaimana rasanya menjadi seorang muslim di Tokyo. Tahu tidak? Saking sukanya saya dengan ramen kedai itu, beberapa hari berikutnya saya mengunjungi kedai itu lagi 🤤 Sayangnya saya tidak sempat berfoto dengan pemilik kedai itu :(
 Makanan Jepang lain yang juga sulit saya lupakan adalah yakiniku halal (barbekyu ala Jepang) di Gyumon. Waktu itu saya tidak membuat reservasi tapi untunglah masih ada meja kosong saat saya ke restorannya (jam 5 sore). Yang membuat saya terpukau, interior restoran itu sangat khas Jepang. 
Belum lagi hidangannya benar-benar sesuai perkiraan saya -- dagingnya empuk dan lumer di mulut. Meskipun saya jarang makan yakiniku, tapi cara memasaknya cukup gampang diikuti. Harga makanannya memang sedikit mahal untuk hitungan porsi satu orang (dimulai harga 3500 Yen) tapi harganya setimpal dengan kelezatan rasanya. Saya sangat menikmati pengalaman makan di sana. Selain ramen dan yakiniku halal, saya juga mencicipi banyak makanan khas Jepang lain di Tokyo, yang semuanya membawa saya lebih dekat dengan kebudayaan Jepang. P.S. Cek pilihan makanan lezat dalam panduan makanan halal di Tokyo yang kami susun di sini.
 Beberapa orang bilang kalau Tokyo adalah kota yang paling terakhir ada di daftar kota Jepang favorit mereka. Tapi buat saya, Tokyo selalu akan jadi kota yang membuat saya jatuh cinta pada Jepang! Kalau kamu tanya saya beberapa tahun sebelumnya apakah saya suka Jepang, pasti saya akan jawab tidak. Saya bersyukur sudah melakukan perjalanan sendirian ke Tokyo, karena kalau tidak, saya pasti tidak akan pernah tahu kenapa orang-orang begitu menyukai Jepang ❤️. Dan kamu tahu, perjalanan ini cuma permulaan dari berbagai petualangan saya di Jepang 😜  Kamu punya pengalaman yang mirip? Ceritakan pada kami di kolom komentar ya! P.S. Mau menjelajahi Tokyo dan wilayah lain di Jepang? Baca itinerary ramah muslim 6 hari 5 malam ke wilayah Tohoku dari kami di sini!