icon
icon
article hero

Sahur Bersejarah Saat Pengetikan Teks Proklamasi 1945

AvatarName

Sastri  •  Apr 26, 2021

icon

Kondisi di bawah ini sesuai dengan saat artikel dipublikasikan Satu hari menjelang Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Presiden RI Ir Soekarno dan Mohammad Hatta mempersiapkan teks yang akan dibacakan kepada masyarakat luas. Hari itu bertepatan dengan 8 Ramadhan 1364 Hijriah, tepat di dalam suasana Ramadhan. Di ruang makan Laksamana Maeda, dirumuskanlah naskah proklamasi kemerdekaan yang merupakan pemikiran tiga tokoh yaitu Soekarno, M Hatta, dan Achmad Soebardjo. Ruang makan tersebut menjadi saksi bisu perumusan naskah teks proklamasi. Beberapa tokoh negara yang saat itu berada di lokasi tersebut juga melaksanakan ibadah puasa. Mengutip situs Good News from Indonesia, Muhammad Hatta sempat menyantap roti, telur, dan ikan sarden yang dimasak di rumah Maeda sebagai menu sahur. “Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang saja masih dapat makan sahur di rumah Admiral Mayeda. Karena nasi tidak ada, jang saja makan ialah roti, telur, dan ikan sardines. Tapi tjukup mengenyangkan,” tulis Muhammad Hatta dalam buku berjudul Sekitar Proklamasi (1981). Para tokoh tersebut menyantap hidangan sahur yang dimasak oleh koki Maeda, yaitu Satsuki Mishima. Orang-orang yang masih berkumpul di kediaman Maeda juga disuguhi berbagai makanan dan minuman. Sahur tersebut menjadi bersejarah karena keesokan harinya Indonesia lepas dari penjajahan. Usai santap sahur, kedua proklamator pulang dan Hatta diantar oleh mobilSoekarno.
Situs Museum Kepresidenan Balai Kirti, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, menuliskan bahwa Soekarno dan tokoh lain meminta agar peristiwa kemerdekaan tidak dilakukan secara tergesa-gesa. “Pertama kita berada dalam bulan suci Ramadhan. Tanggal 17 jatuh pada hari Jumat. Al Qur’an diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan. Orang Islam melakukan sholat 17 rakaat dalam sehari,” ucap Soekarno seperti dikutip dari situs tersebut. Usai pembacaan teks proklamasi, berita kemerdekaan disiarkan melalui radio hingga ke pelosok daerah. Proklamasi dilaksanakan dalam kondisi sederhana, meski mayoritas masyarakat Indonesia tengah berpuasa.