icon
icon
article hero

Calon Jamaah, Begini Tata Cara dan Protokol Kesehatan Umroh di Mekkah dan Madinah

AvatarName

Tiara •  Nov 22, 2020

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan. Pengalaman umroh di era new normal adalah sebuah keistimewaan yang belum tentu bisa dirasakan oleh semua orang. Pandemi bukan hanya menunda keberangkatan para jamaah, namun juga membuat mereka menjalankan ibadah umroh dengan protokol kesehatan yang begitu ketat. HHWT pun berkesempatan mendengar sendiri kisah Ustaz Roy, salah satu jamaah umroh asal Indonesia yang berangkat sebagai kloter pertama asal Indonesia 1 November 2020 lalu.
Protokol kesehatan ketat yang diberlakukan bagi para calon jamaah umroh sudah diterapkan sejak masih berada di tanah air. Sehari sebelum keberangkatan, mereka harus menjalani tes usap yang menentukan jadi atau tidaknya mereka berangkat ke tanah suci. "Kita harus swab dan ada masa karantina sambil menunggu hasil swab dari lab. Kami pagi datang ke hotel untuk swab dan karantina. Alhamdulillah, hasilnya negatif dan keesokan harinya kami berangkat ke bandara untuk perjalanan ke tanah suci," tutur Ustaz Roy. Setibanya di tanah suci, mereka pun tidak bisa langsung beribadah. Pemerintah setempat mewajibkan karantinta selama 3 hari di hotel tempat mereka bermalam. Tidak hanya itu, mereka pun kembali menjalani tes usap pada hari kedua. Setelah diperoleh hasil negatif, baru mereka diizinkan untuk keluar kamar hotel dan beribadah di Masjidil Haram. Rangkaian ibadah umroh mereka pun tidak lepas dari protokol kesehatan yang ketat. Rombongan jamaah ini harus didampingi oleh petugas selama beribadah di masjid suci dan selalu menjaga jarak saat beribadah. "Dibatasi thawafnya. Sholat juga dilakukan di area lantai 2 dan 3, lantai dasar hanya untuk thawaf dan ibadah dengan pakaian ihram saja," ungkapnya. Sementara itu, protokol kesehatan serupa pun diterapkan di Masjid Nabawi, Madinah. Hanya saja, di sini jamaah bisa beribadah dengan lebih leluasa. Mereka bebas beraktivitas di Masjid Nabawi, kecuali area Raudah.
"Jamaah bisa shalat lima waktu tanpa harus ada pengawalan. Hanya pada saat mau ke Raudah sudah ditentukan jadwalnya dan waktunya hanya lima menit di sana," tambahnya. Protokol kesehatan lain yang juga membuat pengalaman umroh di era new normal ini berbeda adalah tidak adanya galon air zam zam di lingkungan Masjidil Haram. Sebagai gantinya, para jamaah mendapatkan air zam zam dalam kemasan siap minum. Sejumlah petugas juga terlihat berjaga di area thawaf  untuk menjaga jarak jamaah. Beberapa polisi bahkan disiagakan untuk memastikan para jamaah memakai masker dengan benar dan tidak ragu mengenakan denda jika terjadi pelanggaran. Tidak hanya protokol kesehatan ibadah yang berbeda, jumlah rombongan jamaah pun dibatasi. Satu bus yang biasanya berisi hingga 45 orang kini hanya diisi setengahnya. Beberapa program seperti ziarah di sekitar kota Mekkah pun urung dilakukan karena tidak mendapatkan izin. Dengan segala protokol kesehatan ini, Ustaz Roy pun mengingatkan para calon jamaah tentang pentingnya karantina mandiri, terutama sebelum berangkat ke tanah suci. "Mau tidak mau dia harus menerima kenyataan jika saat tes usap dinyatakan positif, maka dia tidak bisa mengikuti rangkaian ibadah umrohnya. Itulah pentingnya isolasi sebelum berangkat," pungkasnya. Simak juga pengalaman dan informasi lain terkait umroh di era new normal dalam artikel berikut ini: