icon
icon
article hero

6 Pasangan yang Membuktikan Bahwa Perbedaan Ras Bukanlah Penghalang dalam Islam

AvatarName

Tiara  •  May 20, 2020

icon

[Artikel ini aslinya ditulis oleh Nabilah Roslee. Kamu bisa membaca versi berbahasa Inggris yang ditulisnya di halaman ini.] Diupdate 16 Mei 2020. Informasi yang tertera di bawah ini akurat dan sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikaisakn. Pernikahan menyatukan dua insan dan mebuat mereka semakin mengenal satu sama lain setiap harinya. Apalagi dalam sebuah pernikahan antara dua orang dari budaya yang berbeda. Meski sama-sama memeluk agama Islam, tentu ada sedikit perbedaan, baik dalam praktik beribadah ataupun soal makanan sahur dan berbuka saat berpuasa di bulan Ramadan.
Kredit: Giphy Untungnya, iman kepada Allah SWT melampaui semua perbedaan itu. Sebaliknya, hal ini justru menjadi sebuah pencapaian tersendiri bagi mereka. Untuk lebih lengkapnya, mari simak kisah Ramadan dari 6 pasangan suami istri Muslim yang berasal dari kebudayaan yang berbeda berikut ini! 🤗 Disclaimer: Wawancara dilakukan pada tahun 2018 dan 2019 sebelum pandemi Covid-19 merebak. 
Jesse dan Liyana (Kepulauan Mariana Utara & Singapura)
Kredit: Shahromey Bakri Pernikahan Jesse dan Liyana adalah buah 'perjodohan' yang dilakukan oleh teman mereka. Saat itu Jesse tinggal di New York, sementara Liyana di Singapura. Setelah 9 bulan menjalani hubungan jarak jauh, mereka akhirnya menikah dan menjalani Ramadan pertama sebagai suami istri pada tahun 2018. Ramadan pertama mereka bisa dibilang cukup menantang, terutama soal makanan. Jesse terbiasa makan makanan ringan seperti kurma, madu, yogurt, dan hanya minum air putih saat sahur, sementara Liyana terbiasa sahur dengan makanan berat. Di sinilah perbedaan itu mulai mereka rasakan karena kini mereka tidak hanya memikirkan selera makan sendiri. Alih-alih merasa berat, tantangan ini justru membuat mereka semakin mengerti satu sama lain. Dalam semangat Ramadan, keduanya pun belajar untuk memprioritaskan ibadah di atas segalanya. "Kami berdua memantapkan niat untuk menjadi Muslim yang lebih baik. Alhamdulillah dengan cara ini kami bukan hanya semakin dekat dengan Allah, tapi juga semakin dekat dengan satu sama lain," kata Jesse. 
Meski keduanya baru menjalankan Ramadan bersama-sama sebanyak 3 kali, mereka menyadari bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang untuk beribadah dan menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Sebaliknya, Jesse dan Liyana memanfaatkan momen ini untuk memupuk kesabaran dan terus mengingat Allah SWT. "Kesabaran sangatlah penting karena terkadang rasa lapar dan haus membuat kita gampang marah kepada pasangan. Pastikan untuk selalu shalat dan membaca Al Quran bersama pasangan. Pokoknya ingatlah Allah SWT bersama-sama," pungkasnya.
Fadhilah dan Kim (Malaysia & Korean)
 Kesabaran, komunikasi, komitmen, dan toleransi adalah kunci bagi pernikahan Fadhilah dan Kim, pasangan suami istri yang masing-masing berasal dari Malaysia dan Korea. Siapa yang menyangka, Kim yang menjadi mualaf pada tahun 2013 lalu kini menjalani Ramadan sebagai imam bagi Fadhilah, teman sekampusnya di UTM Skudai. Fadhilah pun mengakui bahwa perjalanan mereka tidak mudah mengingat latar belakang kebudayaannya yang berbeda. Namun, kesamaan hobi yang mereka miliki membantu untuk membuatnya semakin mudah. 
"Di luar perbedaan yang kami miliki, kami berdua sama-sama suka jalan-jalan. Jadi, setiap kali kami bepergian bersama jadi kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain. Semoga seterusnya pun begitu," kata Fadhilah kepada HHWT. Kim sendiri memang telah lama tertarik dengan agama Islam sebelum memutuskan menjadi mualaf. Fadhilah masih ingat betapa Kim berusaha untuk berpuasa seharian penuh, belajar shalat tarawih, dan senangnya ia saat datang ke bazar Ramadan. Kehadiran Kim dalam hidupnya pun membuat Fadhilah menjalankan Ramadan dengan cara berbeda. "Kalau dulu saya selau berusaha untuk khatam Al Quran di bulan Ramadan, sekarang kami berdua mengkaji terjemahan Al Quran dalam bahasa Inggris dan Korea untuk memaknai artinya. Ini menjadi momen yang sangat berharga untuk saya," ungkap Fadhilah. Meski ia mengakui bahwa kadang masih terjadi kesalahpahaman di antara keduanya, mereka berusaha untuk menerima keadaan tersebut. Fadhilah pun sangat bersyukur karena Allah SWT memberikan hidayah kepada Kim dan mengizinkannya untuk menjadi bagian dari perjalanan iman sang suami.
Fatima dan Mamadou Thioune (Amerika-Pakistan & Senegal)
 Pejalanan rumah tangga Fatima dan Mamadou tidak dimulai dengan cara yang dibayangkan oleh pasangan suami istri pada umumnya. Fatima menikahi Mamadou  yang merupakan teman masa kecilnya pada Desember 2014, namun hal itu harus dibayar dengan penolakan dari keluarga. Setelah 9 bulan berjuang, keluarga Fatima pun melunak dan kini mereka tinggal tidak jauh dari rumah keluarganya. 😊 Bukan sekedar saling memahami soal selera makan (Fatima biasa makan makanan berat sementara Mamadou cukup makan roti dan buah-buahan), Ramadan juga membawa perubahan besar dalam keseharian Fatima. Sebelum menikah Fatima jarang ke masjid, namun kini ia pergi setiap malam. "Saya ke masjid setiap malam, kadang untuk membuat dan menyajikan makanan untuk berbuka atau bersih-bersih. Saya bahkan sekarang membuat penitipan anak supaya jamaah yang datang bisa beribadah dengan nyaman," ungkapnya. Ia pun selalu berpegang kepada prinsip bahwa manusia hanya hidup sekali, maka jangan sia-siakan hal itu dan bantulah orang lain sebanyak-banyaknya. Bukan karena imbalannya, namun semata karena Allah SWT.  "Janganlah hidup karena orang lain. Jalanilah hidup karena Allah SWT dan luruskan niat untuk melakukan segala sesuatunya karena Allah SWT," tegasnya. Perjalanan iman Fatima dan Mamadou pun dimuat dalam halaman Facebook  Muslims of The World. Tak hanya itu, mereka pun membagikan kisah sehari-hari sebagai pasangan yang berbeda budaya lewat kanal Youtube DUMA Family . Lewat video yang diunggahnya, mereka menyebarkan positivisme dan menunjukkan bahwa kita bisa hidup normal meski menikah dengan orang dari latar belakang yang berbeda. 
Jinghan dan Aizat (China-Malaysia, Singapura)
"Kamu tidur di tenda saya saja, biar saya tidur di bawah," kata Aizat kepada Jinghan beberapa tahun lalu saat mereka pertama kali bertemu pada Youth Expedition di hutan Kalimantan. Saat itu hujan deras dan tenda Jinghan roboh. Di tengah hujan, Jinghan meminta pertolongan orang-orang yang ada di tenda lain, namun hanya Aizat yang bersedia menolongnya. Dari sana, hubungan mereka pun berlanjut dengan chatting  dan beberapa pertemuan. Ramadan pertama mereka jalani saat masih berpacaran dan Jinghan cukup terkejut dengan perubahan Aizat. "Sebelum Ramadan, Aizat selalu bisa diajak bertemu dan makan bersama. Tapi saat Ramadan, semuanya berubah dan Aizat mengutamakan ibadah. Tidak ada kencan, tidak ada makan malam, tidak ada kompromi," kenang Jinghan. Namun, sikap Aizat justru membuat Jinghan semakin yakin akan pilihan hatinya yang saat itu masih belajar tentang Islam. Aizat membimbingnya sungguh-sungguh, mulai dari menemaninya datang ke pengajian sampai mengingatkan waktu shalat dan sahur.
 Setelah menikah, segalanya pun semakin mudah bagi mereka. Selain bisa menghabiskan Ramadan bersama keluarga, mereka pun bisa saling mengingatkan dalam ibadah. "Kadang rasanya malah Jinghan yang membimbing saya. Kalau saya belum shalat, dia selalu mengingatkan. Ada kalanya saya malas bangun sahur, tapi Jinghan bahkan membawakan kurma dan air putih ke kamar supaya saya tetap menjalankan sunah," ungkap Aizat. Terlepas dari perbedaan latar belakang, agama Islam justru menjadi faktor yang mempersatukan keduanya. Saling membimbing satu sama lain dalam iman, itulah yang mereka rasakan dan  menjadi perjalanan tersendiri yang berkesan. Jinghan mendokumentasikan perjalanannya sebagai mualaf dalam Facebook-nya The Radiant Muslim!
Mahdi dan Sagal (Suriah-Perancis & Kanada-Somalia)
Berawal dari hubungan sebagai murid dan guru di kelas bahasa Arab, Sagal dan Mahdi tidak butuh waktu lama untuk memantapkan langkah menuju jenjang yang lebih serius. Meski dibesarkan dengan budaya yang berbeda satu sama lain, keduanya sepakat untuk menjalani hidup berdasarkan ajaran Islam. Ramadan tahun ini pun mereka jalani bersama dua anak yang lucu. Mengatur waktu untuk berpuasa dan mengurus kedua buah hati diakui menjadi tantangan tersendiri bagi keduanya. Meski demikian, hal itu justru membuat mereka semakin mengharga peran sebagai orang tua. "Ramadan ini cukup menantang bagi saya karena suami saya adalah imam. Ia menghabiskan banyak waktu di masjid untuk bekerja, tapi selalu menyempatkan diri untuk mengurus anak-anak. Alhamdulillah, setiap kali saya lelah, saya ingat satu hadits yang berbunyi 'Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuannya'," ungkap Sagal.

 Menurut Sagal, pernikahan antara dua orang dari latar belakang berbeda tidaklah berbeda dengan pernikahan pada umumnya jika kita mengesampingkan faktor budaya. Ia berpesan agar setiap pasangan fokus kepada satu prinsip yang dipegang bersama dan melihat perbedaan budaya sebagai bonus yang membuat hidup ini lebih indah. "Kami dipersatukan oleh agama Islam dan masalah yang kami hadapi pun sama dengan pasangan lainnya. Tapi dengan kesabaran dan kegigihan, apapun bisa kita hadapi bersama-sama," tutupnya. 
Keiko Soeda dan Yacob Hussain (Jepang-Malaysia & Singapura)
Sebagai pasangan suami istri, Keiko dan Yacob telah merasakan pasang surut kehidupan. Satu hal yang paling berkesan bagi Keiko adalah saat awal-awal ia menikah dan harus menghadiri begitu banyak pesta pernikahan keluarga Yacob. "Setiap akhir pekan ada saja pesta pernikaha. Kadang saya ikut membantu persiapannya, kadang saya bahkan tidak kenal dengan siapa yang menikah, sampai saya pun muak. Tapi sekarang, saya justru sering bertanya kepada suami saya 'Minggu ini tidak ada pesta pernikahan?'," tutur Keiko. Menikah bukan hanya soal mempersatukan 2 insan, namun juga 2 budaya yang berbeda. Perbedaan budaya ini membuat Keiko merasa lelah di awal pernikahannya. Namun, kini ia telah beradaptasi dan belajar untuk ikhlas dan menjadi dirinya sendiri. Ia pun merasa beruntung bisa mendiskusikan semua permasalahan yang ia hadapi bersama sang suami.
 Menurut Keiko, yang terpenting dalam pernikahan 2 orang dari latar belakang berbeda adalah saling menghormati dan mengikuti ajaran agama. Dalam Al Quran pun telah dituliskan bahwa setelah kesulitan ada kemudahan. Setiap pernikahan punya permasalahannya tersendiri, namun dengan kuasa Allah SWT hal itu bisa dihadapi satu per satu bersama-sama. "Komunikasi adalah kunci dalam pernikahan. Jangan berasumsi sendiri atau memendam perasaan karena bisa membuat stres baik diri sendiri maupun pasangan," tambahnya. 😊 P.S. Baca perjalanan Keiko sebagai Mualaf di halaman ini!