icon
icon
article hero

7 Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan Sebagai Seorang Non Muslim Selama Menulis untuk HHWT

AvatarName

Tiara  •  Sep 29, 2020

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan. [Kamu bisa membaca artikel asli berbahasa Inggris yang ditulis oleh Cheng Sim di halaman ini.] "Mengapa kamu mau menulis untuk Have Halal, Will Travel?" Begitu banyak pertanyaan yang saya dapatkan ketika bekerja di HHWT. Perkenalkan, saya Cheng Sim, salah satu penulis di balik artikel yang kamu baca atau membalas pesan kamu di Instagram. Mungkin terdengar aneh ketika seorang non Muslim menulis untuk sebuah platform halal travel dan lifestyle Muslim terbesar di dunia. Bagi saya pun bekerja untuk HHWT punya tantangan tersendiri, sesuatu yang unik bagi seorang non Muslim, dan inilah cerita saya.
Saya belum sadar akan kebutuhan traveler Muslim saat memulai
Saya tinggal di Malaysia dan makanan halal bukanlah hal yang sulit ditemukan. Untuk sekian lama, saya pikir ini adalah hal yang lumrah di seluruh dunia. Suatu hari, saya bertanya kepada seorang teman tentang perjalanannya ke Kamboja. Ia bilang, "Angkor Wat bagus banget, tapi susah untuk cari makanan halal. Saya cuma makan roti dan ikan tuna selama seminggu". Waktu itu, memang tidak banyak tempat wisata yang nyaman untuk wisatawan Muslim. Artinya sulit untuk menemukan  makanan halal, terlebih makanan lokal yang halal. Mendengar cerita itu, saya jadi sadar betapa saya belum paham akan kebutuhan wisatawan Muslim. Sebagai traveler, saya puntergugah untuk bergabung dengan HHWT dan membantuk umat Muslim menjelajahi dunia dengan lebih mudah.
Saya sempat ragu ketika harus menulis panduan perjalanan untuk umat Muslim
Sebelum bergabung dengan HHWT, saya telah bergabung sebagai freelancer sejak tahun 2016. Saat pertama kali menulis panduan makanan halal, saya berpikir, "Apa ada yang percaya panduan makanan halal yang ditulis seorang non Muslim?"
Setelah artikel pertama saya, 10 Halal Restaurants In Ho Chi Minh terbit, ternyata responnya cukup positif. Ternyata saya sendiri yang overthinking. Melihat komentar di postingan Facebook, saya senang sekali karena bisa membantu pembaca dalam perjalanannya.
Setelah beberapa lama, kini saya mengerti apa yang dibutuhkan traveler Muslim dan menulis sesuai kebutuhan mereka.
Saya merasakan sendiri betapa pentingnya misi HHWT
Satu hal yang saya kagumi dari HHWt adalah misinya untuk menginspirasi umat Muslim untuk bepergian dan menyebarkan kedamaian. "Kami percaya bahwa lewat traveling, umat Muslim bisa menjadi agen perdamaian. Pergilah dan tunjukkan kepada dunia bahwa di samping agama, ada begitu bayak kesamaan di antara kita dan dalam perbedaan tersebut kita bisa saling belajar." -Have Halal, Will Travel Kata-kata ini begitu membekas bagi saya, dan saya pun merasakannya sendiri saat perjalanan dinas terakhir ke New Zealand.
Tepat 2 hari sebelum peristiwa penembakan di Masjid Al Noor Christchurch, kami baru saja bertemu dengan komunitas Muslim di sana. Beberapa hari setelah tragedi itu, kamu mengambilsikap sebagai agen perdamaian dengan memabgikan cerita umat Muslim dan non Muslim di New Zealand yang bersatu di tengah duka. Seluruh wanitaKiwi mengenakan kerudung satu hari dan respon komunitas lokal pun tak kalah berarti. Hal ini membuat saya tersadar bahwa bepergian memungkinkan kita untuk mengenal suatu bangsa secara utuh.
Memakan kerudung tidak bertentangan dengan nilai pribadi saya
Kunjungan ke Masjid Al noor di christchurch adalah pertama kalinya saya mengenakan kerudung. Itulah cara untuk menghormati tempat ibadah dan tidak bertentangan dengan nilai pribadi saya. Ketika kita membuka hati untuk memahami dan menghormati agama serta budaya lain, kita bisa hidup berdampingan dengan damai.
Saya memahami pentingnya keragaman di tempat kerja
Selain saya, co-Founder HHWT Elaine juga seorang non Muslim. Kamu mungkin tidak asing karena pernah melihat kami di video HHWT saat kami mencoba berpuasa untuk pertama kalinya. Meski berbeda keyakinan, hal itu tidak pernah menjadi penghalang bagi saya untuk bekerja dan bersosialisasi dengan teman-teman di kantor. Perbedaan ini justru merefleksikan misi kami untuk saling memahami perbedaan yang ada. Salah satu contoh paling menarik adalah saat bulan Ramadan. Saya berkesempatan untuk menulis pengalaman berpuasa untuk pertama kalinya dari sudut pandang seorang non Muslim.
Saya akan terus belajar memahami kebutuhan wisatawan Muslim
Suatu hari, saya ikut perjalanan dinas bersama beberapa jurnalis Malaysia lainnya. Mereka cukup keget ketika tahu bahwa HHWT menugaskan saya yang non Muslim untuk perjalanan ini. Padahari terakhir, seorang jurnalis bilang saya harus belajar dan memeluk agama Islam untuk bekerja di perusahaan seperti HHWT. Jujur, saya sakit hati. Saya sempat berpikir, "Apa saya tidak layak menulis untuk HHWT hanya karena saya non Muslim?" Meski saya non Muslim, saya tidak pernah berhenti belajar untuk memahami kebutuhan umat Muslim. HHWT bekerja untuk sebuah misi, yakni menginspirasi umat Muslim untuk melihat dunia. Percaya tidak percaya, misi itu telah tertanam dalam diri saya, terlepas dari keyakinan saya yang berbeda.
Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama perdamaian, dari kacamata seorang non Muslim
Saya percaya, umat non Muslim pun perlu memainkan perannya untuk menunjukkan wajah Islam yang penuh perdamaian. Tinggal di Malaysia dan dikelilingi oleh teman-teman Muslim, sedih rasanya melihat citra buruk umat Muslim yang ditampilkan di TV dan media sosial. Saya percaya ahwa non Muslim juga bisa menyebarkan pesan perdamaian Islam, sedikit demi sedikit, bersama-sama. Menjadi penulis non Muslim di HHWT memang punya tantangan tersendiri. Ada berbagai tantangan, ujian, dan hal baru untuk dipelajari. Namun, semua itu sepadan. Kalau ada yang bertanya, "Mengapa kamu mau menulis untuk Have Halal, Will Travel?". Jawaban saya hanya satu, "Mengapa tidak?".