icon
icon
article hero

Kisah Toleransi Warga Philadelphia, Umat Muslim Dibolehkan Shalat di Gereja

AvatarName

Shafa Rana Nusaibah  •  Apr 27, 2021

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan. Philadelphia sudah lama dikenal sebagai kota paling toleran di Amerika Serikat. Pemerintah di sana dengan terbuka menerima imigran dari berbagai latar belakang budaya dan kepercayaan, ketika tidak ada koloni Inggris di Amerika yang melakukan hal tersebut.
Dilansir dari VOA Indonesia, diawali dari tawaran seorang pastor pada tahun 2007 silam gereja Philadelphia Price Centre (PPC) membuka pintunya untuk warga Muslim Indonesia yang ingin melaksanakan ibadah Shalat dikarenakan saat itu belum ada Masjid. Aldo Siahaan selaku pastor di gereja tersebut menyatakan bahwa pembukaan gereja bertujuan untuk mempermudah kaum Muslim Indonesia untuk mendapatkan rumah ibadah yang layak terutama menjelang bulan Ramadhan. “Saya tahu rasanya menjadi seorang minoritas di Indonesia, karena itu saya tahu perasaan warga muslim Indonesia sebagai minoritas di Amerika,” ujar Aldo.  Indah Nuritasari selaku aktivis Muslim di Philadelphia menyatakan bahwa tawaran tersebut memudahkan banyak umat Muslim. terutama wanita yang sudah memiliki anak, dikarenakan lokasi gereja yang strategis. Namun, sholat di gereja juga menuai perdebatan. Masih ada beberapa masyarakat yang kontra dan tidak mau memasuki gereja. Namun hal ini tidak membuat pengurus gereja menghentikan pembukaan gereja bagi umat Muslim. “Pada saat sholat tarawih, salib kami tutup,” ujar Aldo. Padatahun 2008, masjid Indonesia Al-Falah akhirnya didirikan di Philadelphia. Sejak saat itu komunitas Muslim Indonesia di Philadelphia selalu mengajak warga non-muslim untuk menghadiri kegiatan masjid. Lindy Backues, merupakan salah satu pengurus gereja PPC sering menghadiri kegiatan di masjid Al-Falah. Beliau menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan ini mengingatkannya akan Tasikmalaya, kota yang sebelumnya pernah ditinggali. 
Jurnalis AS Berbagi Kisah Tentang Ramadhan
Dilansir dari Nusadaily.com Sejumlah jurnalis Muslim yang tinggal di Amerika Serikat berkumpul secara online untuk berbagi pengalaman mereka dan edukasi kepada orang-orang sekitar tentang makna dibalik ibadah yang rutin dilakukan di seluruh dunia selama bulan suci Ramadhan. Sabrina Siddiqui, seorang jurnalis dari Wall Street Journal di Gedung Putih ini mengalami banyak momentum menyenangkan selama menjalankan ibadah puasa di Amerika meskipun dia juga mengakui menemukan banyak tantangan.  Terlepas dari masih banyaknya Islamofobia di negara tersebut, dia melihat bahwa teman-temannya tetap menghormatinya sebagai seorang Muslim dan tetap menghargai ibadah puasa yang ia jalankan saat Ramadhan dengan tidak makan dan minum di depannya. Meski demikian, ia menjelaskan kepada mereka bahwa dia akan baik-baik saja meski mereka makan dan minum di depannya. Selain ingin berbagi pengalaman dengan teman-temannya, Sabrina juga ingin menjadikan momen tersebut sebagai sarana untuk mempererat hubungan dengan teman-temannya yang non-Muslim. Sama seperti Sabrina, Rummana Hussain seorang Asisten Editor diChicago Sun-times, dan juga Nia Iman Santoso produser VOA TV asal Indonesia juga mengakui menemukan banyak hal yang menyenangkan selama menjalankan puasa di Amerika Serikat. Simak juga rekomendasi dan kisah seputar Ramadhan lainnya dalam artikel berikut ini :