icon
icon
article hero

4 Kisah yang Menceritakan Kelembutan Hati dan Kasih Sayang Rasulullah SAW

AvatarName

Tiara  •  Mar 04, 2021

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan kondisi saat artikel dipublikasikan. Artikel ini disadur dari tulisan Ustaz Ridhwan Mohd Basor yang merupakan anggota Asatizah Youth Network yang berbasis di Singapura. Momen Isra Mi'raj yang jatuh pada 27 Rajab (11 Maret 2021) bisa dimanfaatkan sebagai momen refleksi bagi umat Muslim. Rasulullah SAW merupakan utusan Allah SWT yang menjadi teladan umat Muslim. Selain dikenal sebagai sosok yang berakhlak mulia, beliau pun memiliki sifat pengasih dan penyayang. Salah satu cara untuk menjadi umat Muslim yang baik adalah dengan meneladani Rasulullah SAW. Berikut ini adalah sekelumit kisah teladan Nabi Muhammad SAW yang mencerminkan kelembutan dan kasih sayangnya terhadap manusia dan makhluk hidup lain.
Memaafkan dan tidak pendendam
Peristiwa di Ta'if adalah salah satu kisah teladan Nabi Muhammad yang sering kita dengar. Kala itu, Rasulullah datang ke kota Ta'if untuk mengajak penduduknya memeluk agama Islam. Namun bukan hanya ditolak oleh penduduk setempat, para tetua di kota itu pun memerintahkan anak-anak Ta'if untuk melempari Rasulullah SAW dengan batu. Malaikat pun datang menghampiri Rasulullah SAW dan bertanya apakah beliau ingin membalas perlakuan buruk tersebut. Namun, Rasulullah justru menjawabnya sebagai berikut:
“(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nyadengan apapun jua."[HR Bukhari dan Muslim]
Kisah teladan Nabi Muhammad lain yang juga mencerminkan kelembutan hatinya adalah peristiwa setelah Perang Uhud. Kala itu, Rasulullah SAW tidak memerintahkan pembalasan kepada orang yang melukainya. Sebaliknya, beliau berkata:
للَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لا يَعْلَمُونَ “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
Melihat kebaikan orang lain
Rasulullah SAW juga mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Sebelum memeluk agama Islam, Umar bin Khattab pernah begitu murka terhadap adiknya, Fatimah, karena memeluk agama Islam. Namun, Fatimah tidak melawan dan justru menanggapinya dengan lemah lembut. Hal ini sejalan dengan doa Rasululllah SAW beberapa waktu sebelumnya, yakni:
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari dua Umar: (yakni) Abu Jahal Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab.” [HR Tirmidzi]
Alih-alih memaksakan seseorang memeluk agama Islam, Umar bin Khattab tersentuh oleh kelembutan hati dan kebaikan umat Muslim yang ada di sekitarnya.
Menyayangi satu sama lain
Salah satu hal yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah agar kita saling menyayangi sesama. Hal ini pun tertuang dalam hadis berikut:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” [HR Bukhari dan Muslim]
Menurut ilmuwan asal Suriah Sheikh Mustafa Bugha, pengertian saudara dalam hadist ini pun berlaku secara luas menjadi seluruh umat manusia. Rasulullah SAW pun memberikan contoh dengan hidup berdampingan dengan damai bersama umat beragama lain, baik di Mekkah maupun di Madinah. Beliau pun menekankan bahwa perbedaan keyakinan tidaklah seharusnya merusak hubungan yang baik antar sesama.
Menyayangi makhluk hidup lainnya
Rasulullah SAW pun mengingatkan kita untuk memperlakukan makhluk hidup lainnya dengan baik. Salah satunya adalah dengan tidak menyiksa binatang, seperti yang tertuang dalam hadis berikut ini:
"Ada seorang perempuan yang masuk ke dalam neraka karena perkara seekor kucing. (Kucing) itu dia ikat (sampai mati). Dia tidak memberinya makan. Tidak pula membiarkannya lepas sehingga bisa mencari makan sendiri, (sekalipun) serangga-serangga di tanah." [HR Muslim]
Rasulullah SAW selalu berlaku lembut terhadap makhluk hidup lain. Hal inipun patut kita teladani, meskipun terhadap hewan yang dianggap najis.
Bahkan, ada sebuah hadis yang mengisahkan pahala yang didapatkan seseorang karena memberi minum seekor anjing.
"‏ بَيْنَا رَجُلٌ بِطَرِيقٍ، اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ، ثُمَّ خَرَجَ، فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ الْبِئْرَ، فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً، فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ، فَغَفَرَلَهُ ‏"‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ ‏"‏ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ"

"Pada suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan di suatu jalan, ia sangat kehausan, lalu ia menemukan sebuah sumur, kemudian turun di dalamnya lalu minum. Setelah itu iapun keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing mengulur-ulurkan lidahnya sambil makan tanah karena hausnya, Orang itu berkata dalam hati, 'Sungguh anjing ini telah kehausan sebagaimana yang saya alami tadi.' Ia pun turun lagi ke dalam sumur lalu memenuhi sepatunya dengan air, kemudian memberi minum anjing tersebut. Allah berterima kasih pada orang itu dan memberikan pengampunan padanya.

Para sahabat bertanya: 'Ya Rasulullah, apakah sebenarnya kita juga memperoleh pahala dengan sebab memberi makan minum pada binatang?' Rasulullah SAW menjawab: 'Dalam setiap makhluk yang memiliki hati yang basah ada pahalanya.'

Selain itu, Rasulullah SAW juga menganjurkan kita untuk bersama-sama menjaga lingkungan, salah satunya dengan menanam pohon yang akan bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” [HR. Muslim]
Simak juga kisah inspiratifdan panduan Islami lainnya dalam artikel berikut ini: