icon
icon

Mengapa Ketupat Identik dengan Lebaran? Ini Sejarahnya

AvatarName

Sastri  •  May 03, 2021

icon

Informasi yang tertera di bawah ini sesuai dengan saat artikel dipublikasikan. Beda negara, beda lagi makanan khasnya saat Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, salah satu panganan yang hampir pasti ada saat Lebaran adalah ketupat. Olahan beras ini menjadi sumber karbohidrat utama beserta beberapa hidangan lainnya, seperti opor ayam dan rendang. Namun tahukah Anda, mengapa ketupat selalu ada saat Lebaran dan bagaimana sejarah ketupat? Situs Historia.id menyebutkan, ketupat sudah lama dikenal dari sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini terlihat dari sejumlah makanan yang menggunakan ketupat sebagai pelengkap hidangan. Ada kupat tahu (Sunda), kupat glabet (Tegal), coto Makassar, ketupat sayur (Padang), laksa (Kota Cibinong), doclang (Cirebon), juga gado-gado dan sate ayam. Menurut HJ de Graaf dalam Malay Annal, ketupat merupakan simbol perayaan Hari Raya Islam pada masa pemerintahan Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah pada awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur. Raden Mas Sahid, anggota Walisongo yang sohor dengan panggilan Sunan Kalijaga, lalu memperkenalkan dan memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudahdikenal masyarakat, dalam perayaan lebaran ketupat, perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri dan enam hari berpuasa Syawal. Sejarawan dari Universitas Padjadjaran Bandung, Fadly Rahman, membenarkan hal tersebut. Dikutip dariKompas.com, ia menyebutkan bahwa ketupat muncul pada masa syiar Islam pada abad ke-15 hingga ke-16. Ia menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai keislaman. Ketupat disebut sebagai kupat oleh masyarakat Jawa dan Sunda, yang berarti ngaku lepat alias mengakui kesalahan. Fadly juga mengungkapkan bahwa simbolisasi lain dari ketupat adalah laku papat (empat laku) yang juga melambangkan empat sisi dari ketupat. Pada zaman pra-Islam, bahan makanan nyiur dan beras dijadikan sebagai sumber daya alam yang dimanfaatkan sebagai makanan oleh masyarakat zaman itu. Ketupat juga digunakan pada masa Hindu-Buddha, sehingga masyarakat di Bali saat ini masih menggunakan tipat atau ketupat dalam ritual ibadah.